Kamis, 29 Januari 2015

Risoles untuk Pasukan



Punya seorang tante yang baik hati, periang,  hobi masak dan senang mengundang makan-makan merupakan sesuatu yang istimewa bagi Felli.  Tante Mira, lengkapnya Mira Coryati, adalah  satu-satunya adik mama Felli. Dia seorang ibu rumah tangga, yang benar-benar menikmati perannya.  Dua orang anak  Tante Mira tengah kuliah di Singapore dan Belanda. Suaminya, Om Danang, adalah pengusaha sukses yang sibuk  mengurus bisnisnya.

Bagi Felli, cara Tante Mira menikmati hidup  sangat berkesan. Dia suka masak, lalu mengundang teman, saudara, kenalan, dan tetangga, datang ke rumah menikmati masakannya.  Dia senang menyusun menu masakan, mencoba resep baru,  berbelanja bahan-bahan makanan, dan bersibuk ria di dapur.  Dari sekian banyak masakan lezat hasil racikan Tante Mira, yang paling istimewa adalah risoles mayones. Tak seperti risoles yang dijual di toko kue, rasa risoles buatan Tante Mira jauh  lebih istimewa.

Keluarga dan teman-teman dekat Tante Mira sangat suka dengan cemilan istimewa itu. Setiap kali berkumpul, mereka selalu minta Tante Mira menyediakan risoles.

“Tante buat sendiri mayones-nya. Bukan mayones yang beli di supermarket. Itu rahasianya.” Ucap Tante Mira saat  Felli menanyakan keistimewaan rasa risolesnya.

Hal yang paling membuat Tante Mira bahagia adalah ketika orang-orang menyukai masakannya.  Felli sering  tersenyum sendiri melihat ekpresi wajah Tante Mira dengan mata kejora serta  pipi cubby   kemerahan tertarik ke atas , terdesak oleh senyum lebar yang mengembang dibibirnya. Ekspresi itu selalu menghias wajah Tante Mira  kala melihat semua hasil masakannya, terutama risoles, ludes disantap tamu.

Di akhir minggu, seringkali Felli menginap di rumah Tante Mira , terutama saat Om Danang harus keluar kota mengawasi bisnisnya.  Hubungan Felli dengan Tante Mira sangat dekat. Gadis muda itu  tak ingin Tante kesayangannya kesepian apalagi sejak anak-anak sang Tante melanjutkan pendidikan di luar negeri.

Suatu pagi di akhir minggu, Felli menemani Tante Mira  sarapan. Di tengah obrolan seru, telepon selular sang Tante berdering. Dia mengangkatnya. Felli melihat mata tante kesayangannya  berbinar-binar.

“Oya, kamu sama siapa? Jam berapa datangnya? Siang ini?  Iya deh,  Tante buatkan risoles  kesukaanmu dan juga makan siang. Tante tunggu ya!” Ujarnya.

Ketika menutup telepon, Tante Mira terlihat panik. Dipandanginya jam dinding di ruang duduk, lalu setengah berlari dia  menuju ruang makan, dan membuka lemari es .

“Ada apa, Tante? Siapa yang mau datang?” Tanya Felli.

“Ricky. Siang ini dia mau mampir ke sini. Sama pasukan,lho.  Ramai. Aduh, ini sudah agak siang, takut tidak sempat bikin  risoles!” Ujarnya panik.

Ricky adalah salah satu keponakan Om Danang yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di Jogjakarta. Sudah 2 tahun Tante Mira dan Om Danang  tidak bertemu Ricky. Karena sibuk kuliah, Ricky jarang berkunjung.

Felli mengerti mengapa Tante agak panik. Tentu dia ingin menjadikan pertemuan ini  terasa istimewa dengan menyediakan  masakan yang lezat kesukaan Ricky.

“Untung saja mbak-mbak sudah masak nasi dan lauknya. Tinggal   menambah beberapa macam lauk saja, sudah beres. Kamu bisa mengawasi mereka kan, sayang?” Tante Mira memandang Felli dengan tatapan memohon. Yang dipanggil Tante Mira dengan sebutan “mbak-mbak” adalah dua orang asisten rumah tangga yang biasa membantu memasak dan mengurus rumah.

“Bisa, Tante. Kan lauknya sudah dibumbui, tinggal dipanggang atau digoreng. Ada di lemari es kan ?” Felli balik bertanya.

“Iya. Tolong ya, sayang.Tante harus bikin risoles. Ricky tadi bilang dia rindu makan risoles. Terakhir main ke sini dia makan 10 potong sendiri! Apalagi dia akan datang bersama pasukan. Tante harus bikin yang banyak. Waduh, harus cepat-cepat belanja bahan-bahannya, nih!”

Detik selanjutnya Tante Mira bergegas berangkat ke supermarket. Tak lama kemudian dia kembali lagi. Dibantu dua orang asisten, dia “berjibaku” di dapur membuat risoles istimewa.

Menjelang jam makan siang, di meja telah tertata nasi panas , pindang ikan, ayam panggang, tempe goreng, tahu goreng, cah kangkung, lalapan dan sambal.  

Felli melihat wajah Tante Mira masih terlihat cemas ketika si mbak meletakkan sepinggan besar risoles hangat di atas meja.

“Cukup tidak ya risolesnya? Ricky datang sama pasukan lho. “ Ujarnya cemas.

Felli   bengong melihat kepanikan Tante Mira. Risoles dan hidangan di meja makan ini kelihatannya cukup untuk menjamu sekitar 20 orang yang gembul-gembul alias makannya banyak. Memangnya pasukan yang mau datang berapa orang sih?

 “Coba kalau Ricky memberitahu kedatangannya dari kemarin, tidak mendadak seperti ini. Tante bisa buat risoles lebih banyak lagi.” Ujar Tante Mira.

Saat itu terdengar bunyi klakson mobil,  disusul suara pintu gerbang dibuka.

“ Itu pasti Ricky!” Seru Tante Mira.

Felli dan Tante Mira  berlari ke depan rumah untuk menyambut Ricky.

Sebuah mobil biru mungil memasuki halaman rumah. Setelah terparkir, Ricky turun dari mobil diikuti seorang laki-laki  kurus  setengah baya .

Ricky tersenyum lebar, pemuda gagah itu menghampiri Tante Mira dan menyalaminya.

“Apa kabar, Ricky? Mana teman-temannya yang lain?” Tanya Tante Mira.

Ricky bengong.

 “Kabar baik, Alhamdulillah. Teman-teman yang mana ya, Tante?”

“ Lha, katanya tadi mau datang sama pasukan.” Sahut Tante Mira.

“O iya, ini lho Tante. Kenalkan, ini Pak Sukan. Dia akan menjadi mentor Ricky  selama  belajar bisnis di sini.” Ujar Ricky sambil menunjuk pria kurus setengah baya yang datang bersamanya. Pria itu membetulkan letak kaca matanya dan tersenyum memandang Felli dan Tante Mira.

“ Jadi, kalian hanya berdua saja?” Tante Mira masih tak percaya.

“ Iya, Tante.” Ricky menjawab sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Felli dan Tante Mira saling berpandangan, sejurus kemudian pecahlah derai tawa mereka. Ricky dan Pak Sukan berdiri kebingungan melihat Felli dan Tante Mira tergelak-gelak.

Ketika  Felli menjelaskan kesalahpahaman itu, Ricky dan Pak Sukan pun ikut tertawa. Ternyata Tante Mira salah kaprah. Di telepon tadi Ricky bilang akan datang ke rumah bersama Pak Sukan.  Sementara yang “ tertangkap” oleh Tante Mira, Ricky akan datang bersama pasukan, yang diartikannya sekumpulan orang yang ramai. Seperti teman-teman sekolah  yang dua tahun lalu diajak Ricky berkunjung ke rumahnya.

Hari itu Felli dan Tante Mira  tak berhenti mentertawai diri mereka sendiri. Betapa konyolnya bersibuk-sibuk masak dan menyiapkan makanan yang banyak, mengira akan diserbu segerombolan anak muda lapar, padahal yang datang hanya dua orang saja.

Lalu bagaimana nasib masakan Tante Mira ? Setelah Ricky dan Pak Sukan pulang, Felli memandang meja yang penuh makanan. Risoles istimewa masih bersisa sangat banyak. Gadis cantik berhijab pink itu memasukkan risoles dan makanan lainnya ke dalam plastik dan kotak. Lalu dia mengajak Tante Mira pergi.
“Kita mau kemana? “ Tanya Tante Mira bingung. Dia memandang Felli yang tengah mengemudikan mobil.

“Tenang, Tante. Sebentar lagi  kita sampai.” Felli melirik Tante Mira sambil tersenyum.

Felli memarkir mobil di depan sebuah bangunan tua yang suram.  “ Panti Asuhan  Kasih Ibu “ demikianlah tulisan yang terpampang pada papan  yang terpasang di dinding luar bangunan itu.

Suara tawa dan teriakan anak-anak balita terdengar dari luar. Felli mengetuk pintu. Seorang wanita setengah baya membuka pintu dan tersenyum ramah.

“Ibu, kami mau memberi makan siang buat anak-anak disini.” Ujar Felli pada wanita itu.

“Oh, Alhamdulillah... Terimakasih banyak untuk sedekahnya. “ Wanita itu tersenyum lebar lalu mepersilahkan masuk.

Adegan selanjutnya membuat Felli dan Tante Mira tenggelam dalam haru .  Puluhan anak-anak  dan balita yang kebanyakan bertubuh kurus  berbaris  menyalami mereka dengan tertib. Mereka lalu duduk di lantai  mendoakan Felli dan Tante Mira. Setelah selesai, Tante Mira mempersilakan anak-anak itu makan. Mereka menyambut  dengan antusias.

Bagaimana nasib risoles istimewa? Tentu saja habis tak bersisa. Sekali lagi Felli menangkap ekspresi wajah khas Tante Mira. Pipi cubby kemerahan yang tertarik ke atas, terdesak senyum lebar yang mengembang di bibirnya. Tapi kali ini mata kejora-nya berkaca-kaca, melihat anak-anak yatim-piatu berusia 3 sampai 12 tahun itu makan masakannya dengan lahap.

 “Seandainya Tante tidak salah mengartikan kata-kata Ricky, kita mungkin tidak sedekah dan silaturahmi ke sini ya. Sepertinya Tante harus rutin membuat risoles dan masakan yang banyak untuk menjamu pasukan yang sesungguhnya. “ Ujar Tante Mira sambil memandang  anak-anak panti asuhan itu.

Felli merangkul bahu Tante Mira. Ternyata salah kaprah pun ada hikmahnya. Felli tak mampu menyahut perkataan sang Tante, tangannya sibuk menghapus butiran hangat yang mengalir dipipinya.


Senin, 26 Januari 2015

Panono, Kamera Bola yang Menakjubkan

Hobi jalan-jalan, berfoto dan menulis  membuat  kamera menjadi barang yang sangat penting  bagiku. Seringkali saat  jalan-jalan aku  melihat pemandangan  alam yang indah atau  arsitektur menakjubkan ciptaan manusia yang   membuat hati melonjak-lonjak kegirangan. Pemandangan yang terpampang di depan mata itu membangkitkan rasa syukur dan kekaguman pada Tuhan, karena dari Dialah segala keindahan berasal.
Selalu  tumbuh keinginan untuk mengabadikan kecantikan yang tertangkap mata saat itu.  Cara yang paling tepat mengabadikan keindahan panorama alam   tentu saja dengan memotret. Foto-foto hasil jepretan itu bisa menjadi pengobat rindu. Memandang foto bisa membangkitkan lagi kenangan indah saat mengunjungi suatu tempat. Lalu tentu saja foto-foto itu akan menjadi pelengkap tulisan yang kubagikan di blog atau media lain. Sebuah foto bisa memberi informasi lengkap karena pada hakikatnya foto mampu “berbicara” menyampaikan gambaran detail suatu tempat atau benda.

Memandang sebuah landscape cantik, ingin rasanya merekam semua dengan sempurna seperti layaknya apa yang tertangkap mata. Aku sering merasa kurang puas dengan gambar yang dihasilkan kamera biasa. Bukan masalah ketajaman gambarnya , tapi masalah sudut pandang terbatas yang bisa direkam kamera biasa.

Ada sebuah cara dalam fotografi yang dapat diterapkan demi memperoleh gambar landscape secara lebih lengkap.  Cara itu disebut panoramic fotografi . Sudut gambar yang dihasilkan dengan cara ini sangat lebar mendekati sudut pandang mata manusia. Memandang hasil foto panoramic membuat kita seolah-olah berada di tempat itu. Untuk menciptakan sebuah foto panoramic, fotografer biasanya memotret beberapa gambar dengan memutar posisi camera  demi merekam gambar dari berbagai sudut. Lalu hasil foto akan disatukan melalui proses “ image stitching”. Sayangnya, dengan camera biasa dibutuhkan waktu dan ketepatan, lalu bila ada objek yang tengah bergerak akan timbul efek  “ghosting” atau motion blur pada hasil foto. Selain itu, kamera juga tak mampu menghasilkan gambar panorama “bulat penuh” karena kamera terpasang di tripod. Hal ini menyebabkan kamera tak mampu menangkap gambar atau objek yang terpampang dibawahnya.

Ketika mendengar seorang insinyur komputer  lulusan Technische Universit├Ąt Berlin menciptakan sebuah camera 360 derajat yang mampu mengabadikan gambar seperti apa yang tertangkap mata manusia, aku jadi tertarik menuliskannya di sini.


Sang pencipta camera bernama Jonas Pfeil. Pemuda  ini menciptakan sebuah camera yang berbentuk bola dilengkapi 36 camera-fix focus 2 megapixel. Kamera ini dinamakan “Panono”.  Panono dioperasikan dengan cara dilemparkan keatas seperti melempar bola. Benda itu mampu menangkap gambar di semua arah secara bulat penuh.



Kamera Panono seolah menjawab semua kesulitan yang dihadapi saat melakukan panoramic fotografi.
Tampilan Panono benar-benar mirip bola. Ada lapisan busa yang melindungi camera. Cara penggunaannya pun tak berbeda dengan melempar lalu menangkap bola.

Ketika Panono dilemparkan, saat mencapai titik tertinggi, camera-camera pada Panono menangkap gambar panorama secara bulat penuh. Panono dapat menangkap adegan dengan banyak objek bergerak tanpa menghasilkan efek ghosting dan menciptakan gambar yang unik.


Sumber Foto :  dari Internet


Setelah sang fotografer menangkap bola, saat itu gambar bisa langsung di download dengan menggunakan USB dan secara otomatis ditampilkan  pada panoramic viewer. Sangat mudah. Hal ini membuat sang pengguna kamera bisa mengeksplorasi dan merekam  secara utuh pemandangan yang ada di suatu tempat.
Sayang sekali, Panono belum dipasarkan. Sang pencipta masih belum berpikir untuk membuat produk ini secara massal.


Aku sudah mulai bermimpi bisa punya Panono suatu hari nanti. Mudah-mudahan harganya tidak  terlalu  mahal sehingga bisa terjangkau kantungku.  Kapan dipasarkannya ya? Mari kita tunggu...

Minggu, 25 Januari 2015

Udang Telor Asin

Udang Telor Asin

Bahan :

-          Udang  ukuran sedang 1 kg, buang kepalanya. Jangan buang kulitnya. Cuci bersih.
-          Setengah sendok teh garam halus
-          Bubuk lada hitam secukupnya
-          Bubuk pala secukupnya
-          Bubuk kayu manis secukupnya (sejumput kecil dengan ujung jari)
-          Tepung terigu  100 gram
-          Saus tiram 2 sdm
-          5 siung  bawang merah  dan  4 siung bawang putih, haluskan.
-          Bubuk oregano secukupnya
-     1 sdt minyak wijen
-          3 butir telor asin matang, keluarkan isinya, haluskan.
-           minyak  goreng

Cara :

1.       Masukan udang kedalam wadah
2.       Taburi dengan garam, bubuk lada hitam, bubuk kayu manis, bubuk pala, aduk rata.
3.       Tambahkan saus tiram, aduk rata.
4.       Masukan tepung terigu, aduk rata.
5.       Goreng udang hingga matang, tiriskan.
6.       Tumis bawang merah dan bawang putih dengan 3 sdm minyak goreng.
7.       Masukan oregano dan minyak wijen
8.       Masukan telur asin, aduk-aduk.
9.       Masukan udang, aduk rata.
10.   Angkat dan letakkan di piring.

Catatan :
Kulit udang tidak dibuang karena fungsinya " mengikat " bumbu sehingga rasa masakan ini  spicy dan memanjakan lidah.


SELAMAT MENCOBA




Sabtu, 24 Januari 2015

Kata Adalah Doa


Saat itu tahun 2005. Aku dan suamiku, si Akang, menikmati pagi yang cerah sambil menatap kecantikan Pagar Alam. Pagar Alam adalah sebuah wilayah dataran tinggi  di propinsi Sumatera Selatan yang berjarak 298 km dari kota Palembang.   Cantiknya Pagar Alam berwujud  kebun teh hijau terbentang dengan latar gunung Dempo yang berselaput  kabut tipis.  Vila-vila cantik bergaya tradisional  demikian serasi dengan alam. Kecantikan yang  membuai mata. Kami diam terbius indahnya alam.

Rabu, 21 Januari 2015

Sebuah Renungan Tentang Rezeki


Salah seorang temanku, sebut saja namanya Milla,  senang sekali belanja barang-barang branded.  Kalau dengar kabar ada “sale” di sebuah mall besar di kawasan Pondok Indah, dia pasti hadir duluan. Tas dan sepatunya banyak, demikian juga baju-bajunya. Tapi baju, tas dan sepatu mahalnya hanya dipakai sekali-sekali saja kalau ada undangan pesta atau kumpul-kumpul dengan teman. Sehari-hari sebagai ibu rumah tangga yang tugasnya antar jemput anak sekolah dan les, dia pakai baju seadanya, yang itu-itu saja.

Sabtu, 10 Januari 2015

Waktu Bukan Milik Kita


 Melihat foto-foto yang diposting salah seorang sahabat yang sedang menjalankan ibadah haji dan umroh, hatiku diliputi rindu untuk kembali ke tanah suci. Tiba-tiba terlintas ingatan akan seorang sahabat masa kecil. Kenangan tentangnya  membuatku hatiku sesak oleh kesedihan.   

Sebut saja namanya Devika (  bukan nama asli). Pertama kali saling kenal, saat  masih pakai seragam putih merah. Aku anak baru, pindahan dari Bandar Lampung. Bagiku Palembang masih asing. Asing adatnya, asing bahasanya.  Aku perlu menyesuaikan diri beberapa waktu untuk bisa melebur dalam pergaulan di lingkunganku.

Kamis, 08 Januari 2015

Pindang Patin dan Brengkes Patin Tempoyak, Kuliner Lezat dari Palembang


Pindang Patin

Bernostalgia dengan teman-teman SMA, tak lengkap rasanya bila tanpa ditemani kuliner lezat. Palembang adalah gudang makanan lezat. Sulit rasanya mempertahankan berat badan ideal bila harus berhadapan dengan begitu banyak varian makanan khas Palembang yang membangkitkan selera. 

Bagaimana bisa menahan diri dari pempek, model, tekwan, burgo, laksan, celimpungan, lenggang, mie celor dan lain-lain. Belum lagi jenis kue-kuenya seperti maksuba, engkak ketan, kue 8 jam,  dan lempok durian. Semua itu adalah jenis cemilan yang mengenyangkan dan enak rasanya.

Bagaimana dengan jenis makanan “berat”nya? Tentu ada. Wilayah Sumatera Selatan banyak dialiri sungai, sehingga masakan ikan air tawar seperti ikan baung, ikan patin, dan ikan gabus  sangat populer di sini.

Siang itu, sahabatku Prima Maya Sari dan Astuti mengajak aku menikmati makan siang khas Palembang.  Kami menuju sebuah kedai makanan khas Palembang yang terdapat di sekitar Jalan Merdeka.

“Hari ini kita makan ala orang dusun. Makannya pakai tangan ya, jangan pakai sendok. Di situlah letak nikmatnya.” Ujar Prima.

“Justru begini yang aku tunggu-tunggu. Makan  masakan Palembang ala orang Palembang!” Sahutku antusias.

Jam telah menunjukkan pukul 14. 00 WIB. Perut kami keroncongan.  Ketika masuk ke kedai, Prima langsung bertanya apakah masih ada menu ikan baung. Sayang sekali, menu ikan baung sudah habis diserbu pelanggan kedai ini sejak tadi. Kabarnya di jam makan siang, kedai ini penuh sesak. Orang bahkan rela mengantri demi bisa makan di sini.


Rezeki kami hari itu adalah pindang patin, dan brengkes patin. Dua menu itu dihidangkan dengan nasi putih hangat, sambal mangga  muda dan lalapan.

Pindang patin terbuat dari ikan patin yang dimasak dengan bumbu-bumbu yang “spicy”. Rasanya segar sekali. Gurih ikan berpadu  manis, asam, dan pedas kuah yang dimasak dengan bumbu lengkap. Bumbu lengkap yang dimaksud adalah berbagai bumbu dapur seperti jahe, lengkuas, serai, salam, kunyit, asam jawa, cabe merah, cabe rawit, bawang merah, bawang putih dengan pelengkap daun bawang, daun kemangi dan nanas. Terbayang segarnya kan?

Lalu pelengkapnya ada sambal mangga muda. Pedas cabe rawit, aroma terasi dan asam  mangga muda terasa sebagai perpaduan rasa yang sempurna.

Brengkes patin tempoyak tak kalah uniknya. Masakan ini sebenarnya adalah  pepes ikan patin, tapi tambahan bumbu tempoyak membuat rasa masakan ini sangat istimewa.

Brengkes Patin Tempoyak

Tempoyak adalah bumbu masakan yang terbuat dari daging durian yang difermentasi.  Daging durian yang sudah masak dicampur dengan garam lalu dimasukkan dalam wadah tertutup selama beberapa hari, biasanya sekitar 3-5 hari. Hasilnya adalah rasa yang  khas. Manis, asam dan asin tapi masih beraroma durian. Tempoyak bisa langsung dimakan sebagai teman makan nasi. Bisa juga dimasukkan ke tumisan cabai bila ingin membuat sambal tempoyak.

Brengkes patin tempoyak adalah kuliner yang sangat kaya rasa. Selain rasa dan aroma tempoyak yang manis-asam-asin, bumbu -bumbu lain seperti daun salam, cabe merah, bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit dan serai pun menambah sedapnya masakan ini.

Masakan Palembang sebenarnya adalah makanan sehat. Lihat saja pindang patin itu. Cara memasaknya hanya direbus. Lalu brengkes tempoyak dimasak dengan cara dikukus. Belum lagi ikan yang kaya protein dan khasiat bumbu-bumbu yang baik untuk kesehatan.

Hanya saja,  bahaya bila sering mengkonsumsi makanan Palembang .  Akibatnya badan bisa melar! Hahaha.... Bagaimana tak melar, makanan ini membangkitkan selera untuk tambah lagi, lagi dan lagi.  

Kalau jalan-jalan ke Palembang, jangan lewatkan mencicipi kuliner pindang patin dan brengkes patin, ya. Lezatnya hmmm.... yummmy...

Rabu, 07 Januari 2015

Napak Tilas ke SMA 3 Palembang



Punya waktu satu hari di Palembang, rasanya ingin bernostalgia menelusuri jejak masa lalu kala menjadi murid SMA.  Maka aku mengatur pertemuan dengan  sahabat- sahabatku  Prima Maya Sari dan Astuti. Kami juga mengatur pertemuan dengan guru kami  Bunda Darlis, di sekolah tercinta, SMA 3 Palembang.

Memasuki gerbang sekolah, aku dan Prima langsung disuguhi pemandangan berbeda. Suasana sepi karena saat ini masa liburan sekolah. Pintu  gerbang sekolah telah bertambah satu sementara pintu gerbang yang lama tampak tertutup.


Turun dari mobil, kami berada di lapangan yang dulu sering menjadi tempat olah raga,  lomba drama antar kelas dan pekan orientasi siswa. Ingatan kami seolah kembali pada masa di rentang tahun 1988-1991.

Lomba drama antar kelas yang digelar sekitar bulan Agustus tahun 1988 itu benar-benar membuat para siswa terpacu mengeluarkan kreatifitasnya. Aku  saat itu siswa kelas satu dan pengurus OSIS  yang ditunjuk  menjadi panitia lomba.  Betapa aku kagum pada  teman-temanku yang mampu berakting menjadi tentara Belanda yang galak, nenek-nenek bawel yang gigih ikut berjuang, hingga pejuang yang gila karena stress kehilangan anggota keluarganya. Hebatnya teman-temanku...

Kami sejenak mengenang  kejadian seru dan kocak kala lomba drama perjuangan digelar di lapangan ini. Salah seorang teman kami sangat menjiwai perannya. Dia berteriak , “ Merdeka!” Lalu berlari dengan penuh semangat ke tengah lapangan. Dia  berpose dengan gaya setengah duduk dengan tangan kanan dikepal dan diangkat ke atas. Sayang sekali, saking semangatnya, celana sang teman  sobek dibagian selangkangan. Adegan ini kontan membuat penonton terpingkal-pingkal, sementara sang aktor buru-buru melipir keluar arena sambil  memegangi selangkangannya dengan wajah merah padam.

Kini aku bisa tersenyum bangga. Teman-teman yang sejak dulu unik dan berkarakter   saat ini banyak yang sudah  mencapai kesuksesan dalam hidup. Pemeran  tentara Belanda yang galak itu kini sudah menjadi dokter ahli jantung, pemeran nenek-nenek jompo sudah sukses berkarier sebagai auditor di sebuah badan pemeriksa keuangan, dan sang aktor yang penuh semangat hingga celananya koyak juga sudah menjadi dokter kandungan. Prima Maya Sari, sahabatku tersayang kini sudah menjadi dokter mata. Astuti  sudah jadi sarjana S2 yang mengajar di  fakultas teknik universitas negeri terkemuka di Sumatera Selatan. Sementara aku , sarjana teknik  yang memilih  profesi sebagai emak-emak dasteran.  Hahaha....anti klimaks.

Kini lapangan ini telah berubah fungsi sebagai pintu masuk gedung sekolah.  Sebuah bangunan berlantai dua dengan atap berbentuk limas dan  4 pilar penyangga menyambut kami. Dulu bangunan ini bentuknya sederhana. Satu lantai dan tidak secantik sekarang.  Bangunan ini dulunya adalah ruang guru dan ruang kepala sekolah yang sering kami jadikan tempat latihan vocal group dan paduan suara.

Sebuah spanduk terpasang dibawah atap beranda gedung. Terpampang tulisan sebagai berikut :

“Selamat kepada SMA Negeri 3 Palembang Atas DiraihnyaPenghargaan SebagaiSekolah Adiwiyata Nasional tahun 2014 dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI tanggal 22 Desember 2014 di Auditorium Manggala Wanabakti Jakarta “

Sebersit  rasa bangga membuai hati kami.

Aku dan Prima melangkah memasuki sekolah. Di belakang gedung beratap limas terpampang pemandangan yang membuat kenangan demi kenangan membanjiri benak kami. 


Sebuah pohon  yang menjulang tinggi dengan batang-batang menjari berdiri kokoh. Pangkal batangnya dilingkari semen yang di cat  merah dibagian atasnya. Lingkaran merah itu  dulu sering menjadi alas dudukku di bawah pohon. Masih sama seperti    bertahun lalu ketika aku  masih berseragam abu-abu.

Pengurus OSIS SMA 3 Palembang  periode 1989-1990

Lalu undakan tiga anak tangga itu. Disanalah kami mengabadikan foto bersama pengurus OSIS angkatan 1989-1990. Masa  penuh prestasi, aktivitas positif dan persahabatan yang indah. Di masa-masa indah itu, aku dan teman-teman pengurus OSIS menyumbangkan puluhan piala kejuaraan dari berbagai bidang  yang mengharumkan nama sekolah. Dari bidang seni yang menjadi tanggung jawabku ada 10 piala bukti pencapaian kami. Di rentang dua tahun, kami merajai lomba vocal group, tari, penyanyi solo, musik kontemporer, paduan suara,  dan puisi antar SMA. Di bidang lain seperti baris berbaris, upacara, cerdas cermat, adu debat, PMR dan PKS kami pun berprestasi. Membawa pulang piala-piala  itu ke sekolah membuat kecintaan dan kebanggaan kami sebagai siswa-siswi sekolah ini serasa membuncah.






Selain itu, wajah sekolahku kini telah berubah total. Deretan kelas yang dulu muram dan dekil kini berganti  menjadi gedung  dua dan  tiga lantai yang berdiri kokoh, bersih, indah dan terawat. Lapangan pun telah ditata rapi. Sungguh berbeda keadaannya.






Bunda Darlis

Bunda Darlis mengajak aku dan Prima berkeliling melihat-lihat suasana sekolah. Dia juga mengajak kami berdua duduk-duduk di ruangannya.  Tak lama Astuti ikut bergabung dan kami pun mendengar berbagai kisah Bunda Darlis, dan suka dukanya sebagai guru bimbingan konseling.


Napak tilas kami berlanjut. Di sisi kiri gedung beratap limas, terdapat pohon-pohon angsana yang masih kokoh seperti dulu. Bedanya kini pohon-pohon angsana itu menaungi sebuah bangunan cantik yang hampir selesai pengerjaannya.

Musholla Al Mutaqqin- SMA 3 Palembang


Bangunan cantik dengan kubah keramik hijau bergaris kuning itu tak lain adalah musholla Al- Mutaqqin. Musholla berukuran 15 x 15 m ini sebenarnya layak disebut masjid. Bangunan ini mampu menampung sekitar 200 jamaah.






Musholla Al- Mutaqqin dibangun dari dana swadaya alumni, guru-guru dan siswa SMA 3 Palembang. Adalah Bunda Darlis, guruku yang sejak dulu setia mendampingi siswa-siswi dalam bidang bimbingan konseling (BK). Beliau demikian aktif menghimbau para alumni dan siswa serta guru-guru untuk berpartisipasi dalam pembangunan musholla ini, hingga bangunan ini bisa terwujud seperti sekarang.
Musholla cantik ini adalah hasil rancangan  Ahmad Ardani, seorang arsitek lulusan Universitas Diponegoro, yang tak lain adalah salah satu alumni SMA 3 Palembang. Kak Ardani, begitulah aku memanggilnya, adalah salah satu penggiat kegiatan OSIS periode 1988-1989.

Sama-sama menjadi pengurus OSIS membuat aku mengenal Kak Ardani sebagai pribadi yang bertanggung jawab, jujur dan berdedikasi tinggi. Kak Ardani juga berkepribadian hangat, selalu sabar membimbing aku dan teman-teman pengurus OSIS yang  kala itu masih  junior. Kesediaannya merancang musholla ini membuatku makin kagum akan  kecintaannya pada sekolah ini.  Dia rela meluangkan waktu merancang, mengawasi, dan mengurusi semua hal menyangkut detail pembangunan musholla berikut pernak-perniknya ditengah kesibukan pekerjaaannya. 

Ahmad Ardani

Bagi Kak Ardani , hal ini merupakan investasi akhirat yang pahalanya kelak mengalir pada semua orang yang berpartisipasi dalam proyek ini. Meskipun butuh pengorbanan waktu, tenaga, perhatian bahkan tak jarang dia merogoh kocek sendiri untuk “nombok” ini itu, demi musholla terlihat cantik dan bagus hasilnya.  Tanggung jawabnya sebagai designer dan pelaksana pembangunan musholla ini membuat dia sungguh-sungguh mencurahkan seluruh dedikasinya demi memenuhi harapan seluruh alumni, siswa dan guru yang menjadi donatur pembangunan musholla.

Demikian juga dengan Bunda Darlis. Aku salut padanya. Setelah lebih kurang 20 bulan dia tak bosan-bosan menghimbau para alumni untuk ikut berpartisipasi menyumbangkan hartanya di jalan Allah melalui pembiayaan pembangunan musholla. Saat ini pembangunan  telah memasuki tahap finishing. Usahanya bukan tanpa hambatan. Banyak yang sinis, dan mencurigai upayanya yang gigih. Tapi beliau tetap istiqomah dan sabar karena banyak juga yang menyambut usahanya dengan tanggapan positif.

“Mengajak orang beramal itu tak mudah. Belum apa-apa banyak yang sudah antipati. Tapi harus tetap dijalani. Ini ladang amal buat kita semua. Insha Allah membawa keberkahan. “ Ucap Bunda Darlis.
Fasilitas wudhu yang belum selesai pengerjaannya

Teras bagian luar yang rencananya akan dibikin taman mungil

“Sekarang sudah masuk tahap finishing, tapi dana belum terkumpul lagi. Tempat wudhu belum selesai, masih ada bagian-bagian saluran air yang harus dirapikan, lalu teras luar musholla yang rencananya dibuat taman kecil juga belum bisa dilakukan karena dananya belum ada. “ Ujar Bunda Darlis.

Melalui tulisan ini aku  menghimbau teman-teman  baik alumni SMA 3 maupun pengunjung blog ini untuk ikut membelanjakan harta di jalan Allah dengan berpartisipasi dalam pembiayaan finishing musholla Al- Mutaqqin - SMA 3 Palembang.

Yang berkenan ikut,   dananya  bisa di transfer melalui

Rekening Bank Mandiri 112-00-3300330-7
dan Bank Sumselbabel 150-09-41172
atas nama Mushollah SMA N 3.

Kita perlu sesekali menengok ke belakang, menelusuri kembali kilas kehidupan di masa lalu yang  menjadi bagian penting pembentukan karakter, perjalanan hidup dan keberadaan kita sekarang.

Tak dapat kupungkiri, di sekolah ini aku mendapat banyak pelajaran. Bukan hanya ilmu dari buku-buku pelajaran, tapi lebih dari itu. Aku belajar ilmu kehidupan. Di sekolah ini aku belajar berorganisasi, bekerja sama dengan sebuah tim yang solid, berinteraksi dengan orang-orang yang beragam karakternya, meraih prestasi dengan usaha keras, menjalin persahabatan bahkan persaudaraan. Aku juga belajar menyesuaikan diri, toleransi dan menerima perbedaan dengan damai tanpa merubah keunikan diri sendiri.  Semua ilmu itu berguna bagi kehidupan hingga masa sekarang.

Harapanku untuk SMA 3 Palembang, semoga selalu menjadi sekolah kebanggaan yang menjadi sarana bagi para siswanya berprestasi. Aamiin..