Kamis, 18 Desember 2014

Menggali Manfaat Silaturahmi


Bergaul itu asyik. Sudah kodratnya manusia sebagai makhluk sosial selalu ingin menjalin silaturahmi. Secara umum silaturahmi atau silaturahim berarti  menyambungkan kasih-sayang atau kekerabatan yang menghendaki kebaikan. Secara istilah makna silaturahmi, antara lain dapat dipahami dari apa yang dikemukakan Al-maraghi menyebutkan, “Yaitu menyambungkan kebaikan dan menolak sesuatu yang merugikan dengan sekemampuan”. 
Aku pernah membaca sebuah artikel yang menyebutkan ada banyak “ mutiara” tersembunyi dibalik anjuran silaturahmi. 



Menurut Abu Laith Samarqandi ada 10 manfaat silaturahmi, yaitu :
1.      Mendapat ridho Allah SWT.
2.      Membuat orang yang dikunjungi bahagia. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW “ Amal yang paling utama adalah membuat seseorang bahagia.”
3.      Menyenangkan malaikat.
4.      Disenangi manusia.
5.      Membuat iblis dan setan marah.
6.      Memanjangkan usia.
7.      Menambah banyak dan berkahnya rezeki.
8.   Membuat senang orang yang telah wafat karena keluarga yang masih hidup tetap saling menjalin hubungan baik.
9.  Memupuk rasa cinta kasih terhadap sesama, meningkatkan rasa kebersamaan dan rasa kekeluargaan, mempererat dan memperkuat tali persaudaraan dan persahabatan.
10. Menambah pahala setelah kematiannya, karena kebaikannya (dalam hal ini, suka bersilaturahmi) akan selalu dikenang sehingga membuat orang lain selalu mendoakannya.
Membaca sekilas artikel itu tak mendatangkan perasaan khusus dalam hatiku.  Tapi ketika sudah melaksanakan dan mereguk banyak manfaat, aku baru merasakan betapa banyak nikmat yang kudapat  dari menjalin silaturahmi.

Berdasarkan pengalaman pribadi, manfaat silaturrahmi yang aku rasakan adalah sebagai berikut :
1.      Memberi “ pelajaran” dalam hidup.


Pergaulanku dengan tetangga, komunitas orangtua murid di sekolah anak-anak, teman pengajian, teman facebook,  teman di berbagai komunitas perempuan, teman lama, teman-teman baru yang kutemui saat travelling dan lain-lain selalu memberi hikmah yang besar. Aku tak tahu kenapa, banyak teman-teman yang percaya kepadaku sehingga  mau menceritakan pengalaman hidup mereka yang berliku. Ada yang suaminya meninggalkan dirinya dan anak-anak karena terlibat sekte sesat, ada yang bercerai karena perbedaan prinsip, ada yang berjuang melawan kanker, ada yang menemukan cinta sejatinya setelah sebelumnya mengalami cobaan hidup yang sangat berat, dan lain-lain. Pengalaman-pengalaman hidup mereka yang dahsyat itu sungguh membuat aku terkagum-kagum. Terutama pada ketegaran dan perjuangan mereka yang gigih. Banyak sekali hikmah yang bisa dipetik dari pengalaman teman-temanku. Bahwa Allah SWT tak akan memberika cobaan melebihi kekuatan hambaNya, bahwa kasih sayang yang luas serta pertolongan Allah itu selalu ada untuk hamba yang memelukNya kala diterpa badai kehidupan. Aku bisa memperoleh pelajaran dan berbagai hikmah itu karena mereka, teman-teman yang kerap aku temui,  membagi kisahnya padaku. Alhamdulillah...


2.      Membuka Pintu Rezeki


Kala menyambung kembali silaturahmi dengan seorang teman SMA, aku diajarinya ngeblog. Bukan hanya itu, dia juga menularkan ilmunya mengerjakan “ paid to review” yang membuka peluang memperoleh bayaran dalam dollar dari hasil menulis review produk dari seluruh dunia.

Rezeki dalam bentuk lain adalah  informasi dan solusi permasalahan. Sebagai emak-emak rempong setiap hari selalu berhadapan dengan masalah, yang meskipun bukan masalah besar tapi cukup mengganggu bila tak segera diatasi. Mulai dari mencari asisten rumah tangga, info dokter yang kompeten, tukang pijat urut yang piawai mengusir penat, menu masakan yang lezat, hingga informasi tempat kursus yang asyik. Semua solusinya   aku perolah dengan cara  pergi ke tukang sayur. Lho? Hehehe... Jangan pernah menganggap remeh tukang sayur.

Sebenarnya tukang sayur yang mangkal di sekitar rumah adalah sarana menjalin silaturahmi. Setiap pagi tetanggaku berkerumun di tempat mangkal tukang sayur. Dan aku pun datang ke sana, belanja sayur sekaligus bergaul dengan tetangga. Kalau sudah begini, aku tinggal melontarkan pertanyaan-pertanyaan.

”Bu, kalau dokter rehabilitasi medis di Bogor yang bagus dimana ya?”

“Labu kuning ini selain dibikin kolak, enaknya dimasak apa ya?”.

Tak lama kemudian aku pun pulang dengan wajah sumringah akibat telah mengantongi  informasi dan solusi permasalahan.

Sebuah reaksi spontan yang berlanjut silaturahmi bisa mendatangkan  buah-buahan gratis.  Lho, apa hubungannya? Hehehe....

Suatu hari aku berbelanja di mini market. Ketika mengantri di kasir, seorang ibu setengah baya berwajah oriental kebingungan karena ternyata uang yang dibawa tak cukup membayar seluruh belanjaannya. Dia terpaksa batal  membeli sebotol minyak wijen.

“Maaf, Dik. Minyak wijennya tidak jadi ya. Uangnya kurang. Nanti saja saya kembali lagi. “ Ujar si Ibu.

Aku yang mengantri dibelakangnya spontan bereaksi.

“Bu, tidak apa-apa. Ambil saja minyak wijennya. Supaya tidak repot   bolak-balik ke sini, biar minyaknya saya yang bayar.” Ucapku sambil tersenyum.

Sebenarnya aku sendiri kaget, kenapa aku bisa berkata seperti itu. Aku langsung khawatir, bagaimana kalau si Ibu marah, tersinggung karena dibayari. Soalnya dari tampangnya terlihat dia bukan orang susah. Aku hanya bereaksi spontan, karena membayangkan betapa repotnya harus balik ke rumah mengambil uang dan kembali ke mini market lagi hanya untuk sebotol minyak wijen.

Dia menatapku. Aku terus tersenyum setulus-tulusnya meski hati berdebar.

“Aduh, Bu. Jadi nggak enak nih...” Katanya tersipu.

“Tidak apa-apa, Bu. Daripada repot balik lagi ke sini. Silahkan dibawa minyak wijennya. “ Ucapku riang. Rasanya lega melihat reaksinya.

Dia mengucapkan terimakasih, dan kubalas dengan senyum dan anggukan.

Beberapa hari setelah itu, aku berbelanja di tukang sayur. Sedang asyik memilih kentang, ada seseorang berseru menyapaku. Aku agak lupa, tapi ketika dia bilang bahwa aku yang membayari minyak wijennya, jadi ingat lagi. Kami tertawa, lalu mengalirlah perbincangan seru. Ternyata dia tetanggaku, hanya berbeda cluster.  Senangnya, akhirnya kami berkenalan.

Di pertemuan-pertemuan selanjutnya, aku dapat pisang, jeruk limau, dan jambu biji hasil kebunnya. Ah...berkah silaturrahmi.

3.      Memperkaya ilmu


Keterlibatanku dengan komunitas penulis dan blogger berpengaruh besar dalam menambah ilmu dan peluang berkarya di bidang tersebut. Teman-teman di  komunitas sangat murah hati dalam berbagi ilmu dan pengalaman. Selain itu karya-karya mereka yang terus bermunculan baik  dalam bentuk buku, tulisan inspiratif di blog yang mengundang banyak pengunjung, hingga kemenangan mereka dalam berbagai kompetisi  membuat aku makin semangat ikut berkarya.

4.      Meringankan biaya travelling




Kalau kupikirkan tentang manfaat yang satu ini rasanya ingin memeluk erat sahabat-sahabat baruku yang tersebar di Asia dan Amerika. Tak bermaksud memanfaatkan pertemanan, tapi sungguh kebaikan dan kemurahan hati mereka sangat berarti untukku.

Bulan Agustus-September 2014 lalu, Aku dan sahabatku menjelajah Amerika tanpa ikut tour dari travel agent. Kami mengatur sendiri itinerary perjalanan dan segala sesuatunya. Lewat  jalinan silaturahmi di  facebook, tanpa pernah bertemu muka, sahabat-sahabat baru dari  dunia maya dengan tulus menawarkan rumahnya  menjadi tempat bernaung di sana.

Kami berdua dijamu dengan sangat baik oleh sahabat-sahabat di Detroit- Michigan, Geneva-New York, Los Angeles, Santa Monica, dan Orange County.

Bukan cuma menyediakan rumahnya untuk kami, mereka juga menjamu dengan masakan-masakan yang nikmat, mengantar kami kesana-sini, menemani aktivitas, membagi cerita dan pengalaman hidup, mengajak kami menyelami kehidupan mereka, dan memperlakukan kami sebagai saudara dekat.  

Aku sendiri heran dan takjub, bagaimana mungkin mereka percaya pada orang yang baru dikenal sepintas  di media sosial, mengizinkan tinggal dirumahnya dan memperlakukan dengan sangat baik.

Salah seorang sahabat  berkata,” Ya aku percaya saja. Sesama muslim, sebangsa dan setanah air kan ibarat saudara. Senang bisa dikunjungi saudara. Kehadiran saudara di negri yang jauh  dari tanah air  ini bagiku  sangat istimewa. Ini kesempatan langka.”

“Dan satu hal lagi. Sebelumnya aku baca profil facebook-mu. Kau senang menulis hal-hal yang baik.  Jadi aku yakin kita satu aliran. Aliran positif. Hehehe..” Tawa hangatnya langsung kusambut  penuh haru.

Satu pelajaran yang bisa dipetik, ternyata apa yang ditulis, disebar dan diposting di media sosial merupakan “branding” bagi kepribadian kita. Seandainya yang aku tulis di media sosial berupa cercaan, hinaan, fitnah, sumpah serapah, keluh kesah dan segala yang negatif, belum tentu aku bisa mereguk indahnya persahabatan dengan saudara-saudara di belahan lain bumi Allah ini.

Aku baru tahu kalau naik taksi limo dari Rochester ke Geneva-New York State yang berjarak 1 jam perjalanan itu biayanya 200 USD. Tak ada pilihan lain, tak ada bus atau kendaraan umum yang bisa digunakan untuk mencapai tempat tujuan kami di Geneva. Artinya,untuk pulang kembali ke bandara Rochester pun dibutuhkan biaya 200 USD lagi. Untung saja kami tak perlu membayarnya. Duuh... 400 USD hanya untuk 2 jam wara-wiri  itu sangat lumayan  kan?

Berkat kebaikan dan kemurahan hati sahabat-sahabat baru, banyak sekali biaya yang bisa dihemat saat travelling. Yang jelas biaya akomodasi, makan dan transportasi yang kami keluarkan hampir-hampir nol. Aku dan sahabatku hanya satu kali naik taksi dari hotel ke bandara  di Los Angeles untuk melanjutkan penerbangan ke Detroit. Selebihnya, gratis.  Ya Allah, Alhamdulillah...

5.      Memperluas Networking


Dari teman pengajian dan  dunia kepenulisan aku bisa mengenal  teman-teman lain dengan berbagai latar belakang dan dunia mereka yang sangat menarik . Ada  designer busana muslim, pengusaha batik, pengrajin tas, pemilik penerbitan, psikolog, make-up artis, fashion stylist, photographer,  pegawai kedutaan, aktivis kegiatan sosial, dan lain-lain.

Senangnya bergaul dengan manusia-manusia yang kreatif dan dinamis. Aku bisa memperoleh pengetahuan baru dari berbagai bidang yang mereka geluti.  

Selain itu manfaat networking sangat dahsyat. Bila ingin mengadakan event atau kegiatan positif, yang bisa dilakukan adalah berkolaborasi dengan teman-teman yang hebat itu sehingga menghasilkan karya dan kerja sama yang apik.

6.      Memperoleh manfaat doa yang tulus


Teman-teman, sahabat dan saudara adalah mereka yang merasa senang bila melihat saudaranya senang, dan merasa sedih dan tersentuh melihat saudaranya dalam kesulitan.

Saat suamiku sakit beberapa waktu yang lalu, aku sempat tak memberi tahu siapa pun karena tak ingin menyusahkan. Tapi ternyata tindakan itu salah.

Ketika salah seorang sahabat mengetahui kondisi suamiku, dia langsung mengingatkan.

“Kau tak boleh diam saja. Jalin silaturrahmi. Kabari tetangga, kenalan, kerabat, teman dan sahabat  tentang sakit atau musibah. Kenapa? Karena makin banyak yang mendoakan akan makin baik bagimu. Kita tak pernah tahu, doa siapa yang diijabahNya dengan cepat. Mungkin saja doa tulus yang datang dari salah seorang kerabat atau teman  membuat Allah membukakan pintu kesembuhan dan jalan keluar dari permasalahanmu. Kalau kau tak mengabari, kau menghilangkan kesempatan memperoleh doa makbul dari orang-orang yang tulus.  “ 

“Satu hal lagi. Kalau kau tak mengabari kondisi suamimu, kau sama saja menutup satu pintu kebaikan buat semua kerabatmu. Kalau mereka tahu suamimu sakit, mereka pasti datang menjenguk. Kau tahu kan apa manfaatnya menjenguk orang yang sakit? Ingat hadits yang diriwayatkan dari Ali  r.a.,  ia  berkata: 
Saya  mendengar   Rasulullah saw. bersabda: 

"Tiada seorang muslim yang menjenguk orang muslim lainnya pada pagi hari kecuali ia didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga sore hari; dan jika ia menjenguknya pada sore hari maka ia didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga pagi hari, dan baginya kurma yang dipetik di taman surga." (HR Tirmidzi, dan beliau berkata, "Hadits hasan.")

 “Nah, kalau kau tak memberi tahu siapa pun, sama saja kau menghilangkan kesempatan bagi teman, saudara dan kerabat untuk memperoleh kebaikan didoakan tujuh puluh ribu malaikat. Jadi bagaimana menurutmu?” Ucap sahabatku sengit.

Aku cuma tersenyum kecut  dengan mata berkaca-kaca.

Alhamdulillah suamiku sekarang berangsur sehat kembali, dan aku yakin semua itu karena doa tulus orang-orang terkasih, sahabat, saudara dan kerabat. Sungguh besar nikmat silaturahmi.

7.      Menambah teman dan sahabat sejiwa

Silaturahmi mendatangkan teman-teman baru. Melalui seleksi alam, ada orang-orang baru yang hanya akan lewat sepintas saja dalam hidup, ada yang hanya sebagai kenalan, banyak yang menjadi teman,  sebagian besar  lainnya menjadi sahabat  bahkan saudara dan  tetap ada sedikit  yang menjadi “the haters”.  Selalu ada yang positif dan negatif.

Ada orang-orang yang mampu menumbuhkan kedekatan di hati, yang menimbulkan rasa kasih sayang sebagai saudara dan meninggalkan rasa rindu bila lama tak berjumpa. Sebagian lainnya adalah orang-orang yang menjadi inspirasi. Meskipun ada juga beberapa yang membawa lebih banyak kemudaratan dari manfaat, tapi melaui seleksi alam jugalah  akhirnya  aku memilih berkumpul, bersilaturahmi dengan teman-teman yang positif, kreatif, dinamis dan berjiwa sosial. Melihat sikap mereka yang penuh keteladanan sungguh membuat aku dilingkupi aura positif untuk melakukan kebaikan dan terus berkarya.

Aku terkesan oleh sebuah qoute dari Cecil Thounaojam,

“Birds of the same feathers flock together,

and when they flock together they fly so high.”

Indahnya hidup bila bisa mencapai kesuksesan dengan jalan silaturahmi bersama sahabat-sahabat sejiwa...











2 komentar:

abby onety mengatakan...

Terkesan dgn tulisan mbk juli... menjalin silaturahmi memang menuai byk manfaat. Thanks sharenya yg bermanfaat ini.

Effendi Nurdiaman mengatakan...

Banyak juga ya manfaat silaturahmi ini salah satunya menurut saya yaitu menambah banyak teman :) hhe