Sabtu, 01 November 2014

Samgyetang, Sup Sehat ala Korea Selatan



Matahari di Seoul menampakkan sinar keemasan, mengintip dari balik awan putih  laksana bulu domba yang menghias langit biru cerah. Aku memandang langit dari bawah  pohon chestnut berdaun kuning kecoklatan. Daun-daun di pohon itu sudah agak jarang karena sebagian besar telah gugur ke tanah. Pemandangan cantik  dahan-dahan yang hampir gundul berbentuk artistik  dengan latar langit biru cerah berhias awan putih dan sinar keemasan itu menghangatkan hatiku. Ketika angin dingin musim gugur menerpa wajah, kupejamkan mata meresapi sensasinya. Saat  kubuka mataku, beberapa helai daun chesnut kuning kecokelatan bergerak turun perlahan menari-nari   gemulai terhisap gravitasi bumi, hingga jatuh ke tanah, bergabung dengan daun-daun kering lainnya. Kakiku menjejak trotoar berlapis guguran dedaunan laksana  karpet cantik kuning kecokelatan. Romantisme musim gugur  yang ditimbulkan luruhnya daun itu sungguh menggetarkan. Suasana seperti ini sangat mendukung untuk merasa jatuh cinta lagi. Kalau saja di sana tak banyak orang, rasanya ingin memeluk suamiku dan berterimakasih padanya karena telah membawaku ke tempat indah ini.
Aku membalikkan badan, dan mendapati suamiku tengah memandangiku. Akang, begitulah aku memanggilnya.  




 “Ngapain sih, bengong begitu? Cepat, yuk! Kita sudah ketinggalan, nih!” Serunya.   Kami berada di jalan kecil dekat Sejong Performing Arts Center sebelum Gyeongbokgung,  menuju ke sebuah restaurant.

Siang ini, tour leader kami,  Mr. Danny,  berjanji mengajak  makan siang bersama dengan menu istimewa, sup ayam ginseng atau samgyetang . Sebenarnya sup ini biasa dimakan orang Korea  pada tiga hari istimewa, yaitu tiga hari terpanas di musim panas : chobok  yang jatuh pada  13 Juli, jungbok -23 Juli, dan malbok -12 Agustus. Meskipun saat ini musim gugur, tapi rasa ingin tahuku tentang cita rasa samgyetang membuatku sedikit memaksa Mr. Danny untuk memilih menu ini di acara makan siang kali ini. 

Kami berjalan bergandengan tangan menyusuri “karpet” kuning kecoklatan. Ketika angin bertiup menghantarkan hawa dingin menusuk, kugamit lengan hangat Akang lebih erat.  Beberapa anak muda berjalan melewati kami sambil mengobrol dalam bahasa Korea yang tak kumengerti.  Sekelompok orang bertampang Melayu tengah berdiri di pinggir jalan, tampaknya mereka menunggu bus  datang menjemput. Pasangan muda berwajah oriental mendorong kereta bayi berjalan santai sambil berbincang-bincang. Saat melewati kami, aku menyempatkan melongok ke kereta bayi mereka. Wajah bayi  lucu berbingkai topi merah dengan pipi  chubby sangat menggemaskan. Tubuhnya dibalut selimut tebal yang melindungi dari hawa dingin. Aku tersenyum pada sang ibu,  dan dia membalas senyumku. Hari yang indah...

Kami masuk ke sebuah restaurant  dengan jendela-jendela kaca lebar terpasang  di sepanjang dindingnya . Menurut Mr. Danny, aksara Korea yang terpampang di depan restaurant ini berbunyi “ Goryeo”.  Kami duduk mengelilingi sebuah meja kayu cokelat muda, dengan kursi-kursi  berwarna gelap bergaya minimalis dan  alas duduk berwarna putih. Tak lama kemudian beberapa pelayan meletakkan macam-macam kimchi di meja kami. Sepertinya, selama kami berada di Korea Selatan, tak ada seharipun terlewat tanpa kehadiran kimchi dalam menu makan kami. 

Beberapa menit kemudian,  pelayan mendorong troley berisi hidangan andalan rumah makan ini.  Sebuah mangkuk putih besar diletakkan di depanku. Mangkuk besar itu berisi satu ayam muda utuh, dengan kuah bening panas  bertabur daun bawang, mengepulkan asap beraroma ginseng.

Samgyetang, Sup Ayam Ginseng yang sehat dan kaya manfaat

Aku tertegun memandang hidangan di hadapanku.  Porsinya besar sekali! Semangkuk besar ini haruskah kuhabiskan sendiri? Belum apa-apa rasanya sudah tak sanggup. Dengan sendok, ku ambil sedikit daging ayam beserta  kuahnya. Ternyata dagingnya sangat lembut , tidak berlemak dan tidak berotot. Rasanya  minimalis. Hambar, seperti sup kurang bumbu. Tidak terasa asin dan gurih. Dengan sendok, ku belah perut ayam muda itu. Di dalamnya ternyata ada nasi putih yang  lembut seperti bubur tetapi bulir-bulirnya yang panjang  masih utuh. Lalu ada buah berwarna  merah kecoklatan sebesar sebuku jari kelingking. Karena rasa ingin tahu, aku mencicipinya. Rasanya manis seperti kurma.  Aku bertanya pada Mr. Danny, buah itu ternyata memang kurma Korea yang disebut bekchu. Agak  terbeda dengan kurma yang biasa kunikmati saat bulan Ramadhan di tanah air, ataupun Kurma yang kunikmati di Mekkah dan Madinah, bekchu ini ukurannya lebih kecil, rasa manisnya juga tidak begitu kuat.


Di dalam perut ayam itu juga terdapat akar ginseng, yang rasanya agak wangur sedikit pahit.  Selain itu  ada juga bawang putih,  gamcho (akar manis), hwanggi (akar kuning) dan buah ginkgo.  

“Ayo makan, Neng.  Jangan pikirkan rasanya. Pikirkan saja manfaatnya.” Bisik Akang ketika melihat aku  menyantap samgyetang tanpa selera.

“ Memangnya manfaat sup ini apa?” Tanyaku. 

“Yaaah... masak nggak tahu. Judulnya saja sup ayam ginseng. Ya jelas  mengandung khasiat ginseng, dong. Belum lagi ditambah bumbu-bumbu lain yang juga banyak manfaatnya buat kesehatan.”  
“Ah, sok tau. Coba jelaskan  kalau Akang memang benar tahu apa manfaat sup ini. Hayoo...” Tantangku.

“Eiits... Nggak ada yang gratis ya.  Janji dulu, nanti malam pijitin Akang sampai tertidur, baru nanti dijelaskan apa manfaat sup ini. “ Senyum lebar Akang tiba-tiba  tampak menyebalkan.

“Oh, begitu ya. Sama istri sendiri saja nggak mau kasih info gratis.  Awas ya!” Ujarku sengit. 

“ Ya, iyalah. Neng itu maunya yang gratis melulu sih! Semua hal itu harus ada usaha dulu dong. Ayo sekarang makan sup-nya. Habiskan! Neng nanti perlu tenaga yang kuat untuk pijitin Akang.“ Tegasnya sambil memandang mangkuk sup dihadapanku. Senyum kemenangan terlukis di wajahnya ketika melihatku dengan berat hati kembali menyuap potongan daging ayam lembut dengan kuah sup hambar dan sedikit pahit itu. 

Ternyata bukan aku saja yang tidak antusias makan sup ayam ginseng . Mbak Fahira, Mbak Alma, Mbak Merry, Mbak Rani dan beberapa peserta tour yang duduk satu meja  dengankupun tak mampu menghabiskan porsi makan siang  kali ini.  Dari ekspresi wajah mereka yang agak tertekuk-tekuk, bibir manyun, dan dahi berkerut sudah tergambar jelas bahwa rasa samgyetang tidak cocok dengan selera makan mereka. Satu-satunya yang mampu menghabiskan menu makan siang kali ini tak lain adalah Akang. Mbak Merry dan kawan-kawan sampai bertepuk tangan melihat mangkuk di hadapan Akang hanya tersisa tulang-tulang ayam dan sedikit kuah sup.

 “ Wah... hebat! Mas Sutedja bisa habis makannya.  Suka rasa ginseng ya, Mas?” Tanya Mbak Merry.

“Hehehe... Bukan suka rasa ginseng-nya, tapi suka manfaatnya buat kesehatan.” Sergah Akang sambil cengengesan. 

Aku gemas sekali melihat lagaknya, ingin rasanya mencubit pinggangnya. Sok banget sih!

Malam ini sepertinya aku harus menerima nasib,  berubah jadi tukang pijat demi informasi manfaat sup ayam ginseng bagi kesehatan. 

Malam telah merambat datang. Di kamar hotel, dengan mata setengah terpejam menikmati pijatanku, Akang mulai menjelaskan manfaat samgyetang.

“ Neng, dengar ya.. Sup ayam ginseng itu mengandung manfaat dari ginseng. Sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa ginseng berkhasiat sebagai anti oksidan yang menangkal radikal bebas, anti kanker,anti tumor, anti mutasi gen dan menjaga sistem imun tubuh. Ginseng juga berperan menghambat penuaan dini atau anti aging. Yang membuat sup ayam ginseng itu sangat cocok dikonsumsi di musim panas di saat tubuh banyak berkeringat adalah manfaatnya yang mampu mengurangi kelelahan dan meningkatkan stamina tubuh.  Selain itu ginseng juga mampu menurunkan stress, dan mengandung manfaat yang baik bagi penderita diabetes.”

Beberapa menit berlalu tanpa suara, tampaknya Akang tertidur. Kucubit pinggangnya dengan gemas.

 “ Aww! Apa-apaan sih! Disuruh pijat malah mencubit.” Protesnya. Aku tertawa geli.

“ Lanjutkan penjelasannya dong, dilarang tidur sebelum selesai.” Tukasku.

“ Itu tadi baru dari ginsengnya ya, nah bumbu-bumbu lain yang dimasukkan ke dalam samgyetang itu juga semuanya bermanfaat. Misalnya saja bekchu atau kurma Korea yang mengandung asam lemak, vitamin B1, B2, C, Kalium, Mangan, Kalsium dan Fosfor. Kurma bagus untuk mencegah penuaan dini, mencegah hipertensi, keringat berlebihan dan sesak napas. Akar manis atau gamcho gunanya untuk meredakan batuk dan mengatasi penyakit maag. Buah gingkgo manfaatnya untuk  mengatasia ashtma, batuk, demam, demensia, menyehatkan otak dan organ seks.  Lalu ada juga akar kuning atau hwanggi yang manfaatnya sebagai anti malaria, anti kanker, mengobati cacar, hepatitits dan meningkatkan stamina tubuh. Ayo pijatnya yang enak dong! Di dekat tulang belikat Akang itu coba dipijat, rasanya pegal.” Ujarnya.

“ Ih bawel ya! Cepat jelaskan lagi manfaat samgyetang.”Ujung jariku menekan belikatnya dengan kekuatan penuh.

“ Aduh! Pelan-pelan dong...” Mata Akang kembali setengah terpejam. “ Manfaat samgyetang itu jadi makin hebat karena daging ayam  muda adalah sumber protein rendah lemak yang mengandung vitamin B dan Niacin yang berperan mencegah kanker.  Ayam juga sebagai sumber Fosfor untuk menjaga kesehatan gigi dan tulang , selain itu  bermanfaat juga untuk kesehatan ginjal, hati dan sistem syaraf pusat.  Selain bahan-bahan yang disebutkan tadi, ada juga nasi yang dimasukkan ke dalam ayam. Kalau nasi kan sudah jelas manfaatnya, sebagai sumber karbohidrat kompleks yang digunakan tubuh untuk energi. Bumbu yang lain misalnya daun bawang juga mengandung manfaat yang baik, yaitu menurunkan kolesterol,  sebagai anti virus dan anti alergi. Yang terakhir itu bawang putih. Manfaatnya juga sangat bagus  yaitu sebagai anti bakteri, anti virus dan anti jamur. Bawang putih juga bisa menurunkan kolesterol dan tekanan darah, mencegah kanker perut dan kanker usus besar, mengobati sariawan dan gangguan pencernaan.  Jadi manfaat samgyetang itu adalah gabungan dari manfaat bahan baku dan bumbu-bumbunya. Banyak sekali manfaatnya, kan? Makanya, rugi kalau sup tadi tidak dihabiskan.“

“ Sudah? “ Tanyaku.

“ Penjelasannya sudah selesai, tapi sesuai perjanjian, pijatnya baru selesai kalau Akang sudah tertidur ya.” Matanya terpejam. 

Tiba-tiba aku merasa aneh. Kok dia bisa tahu sedetail itu tentang manfaat samgyetang.

“Akang tahu dari mana informasi tentang manfaat samgyetang? Tadi tanya sama Mr. Danny ya? “ Tanyaku penasaran.

“Ya, nggaklah.Tadi waktu kita tiba di hotel, Neng kan langsung ke kamar. Akang duduk dulu di lobby, browsing internet. Hehehehe....” 

“Lho, tadi katanya Akang kebelet mau ke toilet yang di lobby hotel, jadi Neng disuruh langsung ke kamar. Ternyata tadi itu hanya pura-pura ya? Lalu  waktu kita makan siang tadi, Akang sebenarnya sama sekali belum tahu manfaat samgyetang? Iiih... Akang curang! Sebal banget deh! “

“ Bukan curang, Neng. Itu namanya siasat laki-laki cerdas. Modal browsing sebentar, bisa dipijat sampe ngorok. Makanya Neng jatuh cinta sama Akang karena Akang cerdas kan? .. Hahaha..” Cengiran lebar di wajahnya berubah menjadi tawa berderai. Senang bukan kepalang dia telah berhasil mengakali aku. Aku tak mampu lagi menahan diri. Kuserang dia dengan cubitan-cubitan kecil bertubi-tubi di perut, pinggang, lengan dan pahanya. Akang berteriak-teriak kegelian hingga terjungkal jatuh ke lantai.

“ Ampuuun, ampun  Neng...! Hahahahaha.....”


Tidak ada komentar: