Jumat, 07 November 2014

Hernia Nucleus Pulposus, Sebuah Warna Kehidupan


Jatuh

Selepas shalat Isya Minggu malam 26 Oktober 2014, aku berdiri menatap Rafif melalui pintu kamar mandi lantai atas yang terbuka. Si bungsu  yang  berusia 9 tahun itu asyik main air padahal seharusnya dia mandi. Tampaknya tak bisa dibiarkan, aku harus  turun tangan memandikannya. Kalau tidak, anak lelaki itu takkan berhenti menghambur-hamburkan air sepanjang malam.

“Neng, Akang pergi dulu sebentar. Mau beli pulsa tol untuk ke kantor besok pagi.” Terdengar suara suamiku, si Akang dari lantai bawah.

“Iya. Hati-hati, Kang!” Teriakku.


Perhatianku kembali terfokus pada Rafif. Sekarang dia asyik bermain busa shampo. Dengan jari-jari dia membentuk “balon” busa, lalu meniupnya hingga pecah.

Aku menyiramkan air hangat dari shower ke kepala Rafif. Dia berteriak protes. Habislah busa shampo di kepala dan tangannya tersiram air.

Ketika aku mengambil handuk untuk mengeringkan rambut Rafif, terdengar Akang memanggilku.

“ Neng, antar Akang ke dokter. Tadi jatuh dari motor!” Teriakan  itu membuatku kaget.

“ Ya Allah...”

Aku  memberikan handuk kepada si sulung, Anin.

“Tolong urus adik dulu, Nak. Mama mau mengantar Bapak berobat. “

Aku bergegas turun. Kudapati Akang keluar dari kamar mandi dengan tangan basah. Pandanganku beralih pada celana jeans-nya yang telah robek tak karuan.  Dua luka berwujud lubang berdarah tampak di dengkul dan mata kaki kirinya.

“Astagfirullah...” Teriakku. Hatiku cemas, jantung berdebar keras. Secepatnya aku mengantar Akang ke instansi gawat darurat sebuah rumah sakit swasta.

5 jahitan di dengkul kiri, 3 jahitan di dekat mata kaki kiri, lalu lecet di  tangan kanan dan luka-luka di tangan kirinya. Begitulah kondisi Akang setelah jatuh dari motor.

Percuma saja bertanya-tanya kenapa hal ini bisa terjadi, yang jelas semua ini sudah digariskan dalam skenarioNya.

Besok paginya, luka jahitan di kaki Akang menimbulkan nyeri yang mengiris. Aku melihat kaki Akang bengkak. Sudah pasti dia tak mampu berjalan sehingga hari ini tidak bisa berangkat ke kantornya di Jakarta.

Sepanjang hari aku mendampingi Akang. Ketika dia ingin ke toilet, aku membantu memapah lengan kirinya. Karena tak bisa berjalan, dia meloncat-loncat dengan kaki kanan. Ketika terduduk di toilet, Akang mengaduh.

“Sakit sekali..sepertinya ada otot yang tertarik, Neng. Padahal tadi pinggang tidak sakit. Sepertinya salah posisi duduk.” Keluh Akang.

Hari-hari berlalu, nyeri di pinggang belakang Akang makin parah.  Dia tak bisa duduk, kalau dipaksa duduk nyeri bertambah hebat. Berdiri pun sakit sekali.  Sakit saat berdiri bukan hanya datang dari pinggangnya tapi juga dari luka jahitan di kaki kiri. Satu-satunya posisi yang agak lumayan adalah  berbaring, itupun  gelisah harus mencari-cari posisi yang tepat  menghindari nyeri.

Hingga Jum’at 31 Oktober, dokter perusahaan datang berkunjung ke rumah. Dia menyarankan Akang untuk melakukan MRI (Magnetic Resonance Imaging) untuk mengetahui kondisi di ruas tulang pinggang dan syarafnya.

Proses MRI

Sebenarnya sejak tahun 2005 Akang sudah beberapa kali pernah dicoba untuk di MRI, tapi selalu gagal. Penyebab gagalnya karena ternyata Akang mengidap claustrophobia atau phobia ruang sempit! Lelaki separuh jiwaku itu tak bisa berbaring tenang dalam lorong sempit mesin MRI. Nafasnya menjadi  sesak dan panik hingga dia bergerak terus. Akibatnya pemeriksaan MRI pun tidak berhasil.  Meski sudah dicoba menenenangkan diri, memejamkan mata, mengucapkan doa dan shalawat, membayangkan hal-hal yang menyenangkan ketika berada dalam mesin MRI, tetap  saja gagal.

Tapi kali ini,  pemeriksaan MRI sangat dibutuhkan untuk mengetahui langkah pengobatan apa yang tepat untuk penyakitnya, harus diupayakan cara lain supaya Akang tenang selama proses pemeriksaan MRI berlangsung.

Malam itu aku menelepon rumah sakit  Pertamedika Sentul City, berkoordinasi dengan petugas rumah sakit untuk mengatur konsultasi dengan dokter bedah syaraf dan menyiapkan pemeriksaan MRI dengan kehadiran dokter ahli anestesi. Akan diupayakan pemeriksaan MRI untuk Akang dengan cara melakukan bius, supaya selama proses pemeriksaan Akang bisa berbaring tenang.
Rumah Sakit Pertamedika Sentul City

Kenapa memilih rumah sakit Pertamedika Sentul ? Ya karena di Bogor belum ada satu pun rumah sakit yang memiliki fasilitas MRI. Pertamedika Sentul adalah rumah sakit terdekat dari Bogor yang memiliki fasilitas ini. Rumah sakit ini baru beroperasi selama 1 tahun. Pelayanannya baik. Para suster, dokter maupun tenaga medis lainnya ramah dan cepat tanggap.  Baru sekali ini aku menemukan rumah sakit yang menyediakan makanan untuk keluarga yang menunggui pasiennya, meskipun fasilitas makanan untuk keluarga pasien  hanya tersedia  untuk kelas VIP  ke atas. Karena masih melakukan pembangunan bertahap, rumah sakit ini belum memiliki kantin, hanya ada sebuah toko roti yang terletak di lobby-nya. Jadi kalau ingin membeli  makanan atau kebutuhan lain, harus berbelanja ke supermarket besar yang terletak di  gedung sebelah. Bisa ditempuh dengan jalan kaki dengan jarak sekitar 100 meter.

Sabtu 1 November 2014, jam 9.30 pagi kami berangkat dari rumah menuju Rumah Sakit Pertamedika. Sepanjang perjalanan aku melihat Akang mengatupkan mulutnya dengan kuat.  Butiran keringat dingin membasahi dahinya, karena menahan sakit yang amat sangat. Jam 10.30 kami tiba di  Rumah Sakit. Petugas rumah sakit langsung menyambut dengan mendorong brankar ( ranjang beroda untuk  mindahkan pasien). Akang dibawa ke ruang emergency lalu di periksa tekanan darahnya sambil menunggu dokter   bedah syaraf datang.

Ketika dokter datang, aku menyerahkan hasil CT scan tulang belakang yang pernah dilakukan sebelumnya. Setelah memperoleh penjelasan kronologis penyakit,  dokter itu meneliti hasil rontgen dan CT scan.

“Kelihatannya Bapak menderita Hernia Nucleus Pulposus. Dari pemeriksaan CT Scan ini terlihat ada bantalan tulang lumbal yang mendesak ke sumsum tulang belakang. Tapi memang harus dilakukan pemeriksaan MRI supaya jelas masalahnya.” Ujar dokter M.Agus Aulia, SpBS.

Di hari yang sama, MRI dilakukan dengan bantuan dokter ahli anestesi, DR. dr. Dyah Yarlitasari, SpAn. Sebelumnya dokter memberi motivasi pada Akang untuk membantu  proses pemeriksaan MRI berlangsung lancar.

Aku ikut mendampingi Akang dan melihat proses ketika hidungnya dipasangi selang  oxygen, dan obat bius diinjeksi  lewat infus untuk membuatnya tertidur. Dari ruang kontrol yang  berada di sebelah ruang MRI, aku bisa mengawasi dengan jelas melalui kaca dan layar monitor. Tubuh Akang perlahan bergerak “tertelan” ruang sempit mesin MRI yang berbentuk lingkaran pas seukuran tubuhnya.
Ilustrasi Pemeriksaan MRI. Sumber : internet

Aku, dokter, perawat dan petugas radiologi menanti dengan tegang proses MRI berlangsung.

“Mudah-mudahan dia tidak bangun saat proses masih berlangsung. Soalnya obat bius yang saya berikan hanya membuat dia tertidur di permukaan,  bukan tidur yang dalam. Saya khawatir bunyi  berdentam-dentam  dari mesin MRI membangunkannya. “ dokter berkata dengan sedikit cemas.

Layar komputer di ruang kontrol menampakkan gambar-gambar siluet tulang belakang bagian pinggang. Petugas  radiologi mengolah gambar itu dengan  program tertentu.


Ilustrasi MRI Control Room


“Tampaknya tak ada cara lain. Ini harus dioperasi. “  dokter anestesi  berucap lirih kala meneliti gambar-gambar di layar komputer .

Dokter itu menatapku. Sekali lagi dia berkata. “ Harus dioperasi, Bu.”

Aku diam membeku, berusaha menetralisir rasa ngeri. Bibirku kelu, tak mampu merespon ucapannya.

Lima belas menit berlalu, tiba-tiba di sepertiga proses akhir pengambilan gambar MRI, aku melihat jari-jari Akang bergerak. Geraknya ritmik, seolah memberi tahu kalau dia sudah sadar.

“Aduh..dia bangun! Kuat sekali dia, padahal saya sudah memberi dua dosis obat lho. “ dokter itu berucap cemas.

“ Mudah-mudahan dia tetap tenang, dok.” Sahutku.

Untunglah 5 menit sisa waktu itu berlalu dengan sukses. Semua proses pengambilan gambar berhasil dilakukan. Aku berterima kasih dan dokter anestesi tersenyum gembira karena berhasil menjalankan misinya.

Perlahan tubuh Akang yang terbaring diatas conveyor bergerak keluar  terowongan sempit itu.  Alhamdulillah, dia tak panik.

Hernia Nucleus Pulposus

Hasil MRI  menegaskan dugaan sebelumnya. Akang terbukti menderita Hernia Nucleus Pulposus (HNP). Sebenarnya penyakit ini sudah terdeteksi sejak tahun 2005 melalui hasil rontgen. Terdapat bantalan tulang  yang sudah tidak bagus pada lumbal (tulang pinggang) ruas 3, 4 dan 5. Akang kadang-kadang merasa nyeri di pinggangnya terutama setelah melakukan aktivitas terlalu lama duduk. Tapi nyeri itu sering sembuh sendiri sehingga Akang mengabaikannya.

Tulang belakang tersusun atas ruas-ruas tulang yang dihubungkan menjadi satu kesatuan melalui persendian, mulai dari daerah leher sampai tulang ekor. Ruas tulang yang di atas dihubungkan dengan ruas di bawahnya oleh sebuah bantalan yang disebut diskus intervertebralis (persendian pada tulang belakang). Di dalam bantalan ruas tulang belakang tersebut, terdapat suatu bahan pengisi seperti jeli kenyal yang disebut nucleus pulposus. Seperti pada mobil dan motor, bantalan tersebut berfungsi sebagai  “shock breaker” (peredam getaran) dan memungkinkan tulang belakang dapat bergerak lentur.
Struktur Nucleus Pulposus

Hernia Nucleus Pulposus (HNP) adalah nyeri yang disebabkan keadaan di mana bantalan lunak di antara ruas-ruas tulang belakang (soft gell disc atau nucleus pulposus) mengalami perubahan atau gangguan.  Orang awam menyebut keadaan ini sebagai “ urat terjepit”. Ada dua kasus HNP sebagai berikut :

1. Ketika nucleus pulposus mengalami tekanan dan pecah, sehingga urat-urat syaraf yang melalui tulang belakang terjepit.

2.  Keluarnya nucleus pulposus melalui robekan annulus fibrosus (pembungkus nucleus pulposus)  menekan medula spinalis. Medula spinalis  adalah jaringan saraf berbentuk seperti kabel putih yang memanjang dari medula oblongata turun melalui tulang belakang dan bercabang ke berbagai bagian tubuh.  Medula spinalis merupakan bagian utama dari sistem saraf pusat yang melakukan impuls saraf sensorik dan motorik dari dan ke otak. Disebut juga saraf tulang belakang atau sumsum tulang belakang.

Kedua keadaan itu menyebabkan nyeri yang hebat. Bahkan pada kasus yang parah bisa menyebabkan kelumpuhan.
Gambar ilustrasi Hernia Nucleus Pulposus



Hernia Nucleus Pulposus
Pada Akang, kasus HNP yang terjadi adalah pada point 2 di mana bantalan ruas tulang belakang bagian pinggang (lumbal) no 4-5 keluar dari jalurnya dan menekan sumsum tulang belakang.
Penyakit ini tidak serta merta timbul, melainkan akibat akumulasi dari berbagai kegiatan. Penyebab penyakit ini antara lain :
-          Postur tubuh yang tidak diposisikan dengan benar.
-          Perubahan degeneratif.
-          Berat badan berlebih.
-          Cedera/trauma benturan.
-          Merokok.
-          Batuk yang lama dan terus menerus.
-          Tekanan pada tulang belakang.
-          Sering menyetir dalam waktu lama.
-          Usia lanjut.
-          Kelainan pada tulang belakang.
-          Sering mengangkat beban yang berat.

Dari penyebab di atas, penyebab yang paling mungkin terjadi pada Akang adalah sering mengangkat beban yang berat. Sejak masih di bangku kuliah Akang menyukai olahraga angkat beban. Olah raga ini rutin dilakukannya untuk membentuk otot-otot tubuhnya.

Selain itu yang mungkin juga menjadi penyebab penyakit ini pada Akang adalah sering duduk dalam waktu lama saat bekerja dan trauma benturan. Menurut Akang, sejak saat masih duduk di bangku SMP sampai kejadian kecelakaan kemarin, dia sudah beberapa kali jatuh dari motor karena hobby ngebutnya.

Gejala yang dirasakan penderita HNP adalah nyeri yang terasa menusuk tajam seperti nyeri saat sakit gigi pada bagian pinggang menjalar ke lipatan bokong. HNP pada ruas pinggang juga menimbulkan nyeri pada pinggang yang menyebar ke tungkai, umumnya ke daerah betis. Orang awam sering menyebutnya seperti “nyetrum”. Gejala lainnya adalah rasa kesemutan, baal/kebas. Pada keadaan yang lebih berat rasa nyeri akan terasa saat berjalan atau duduk dalam waktu yang lama. Kelumpuhan pada HNP pinggang adalah ketidakmampuan berjalan dengan cara berjinjit atau berjalan dengan tumit.

Kelanjutan dari nyeri akan terjadi kekakuan otot yang mengakibatkan penampakan struktur pinggul dan tungkai yang terkena menjadi tak sama dengan tungkai yang sehat di sebelahnya. Sebagai gejala lanjutan, gerakan pada arah tertentu menjadi terbatas dan tidak bisa melakukan gerakan atau mobilisasi tubuh dengan sempurna layaknya orang yang sehat.

Cinta Bukan Sekedar Kata
Hidup ibarat sekotak pensil crayon. Kita tak hanya memperoleh warna-warna favorit,  ada juga warna-warna yang tak kita sukai. Semua warna  harus ada untuk membuat sekotak crayon itu menjadi lengkap.

Aku tak menyesali bahwa   kisah hidupku dan Akang  tengah dihiasi oleh semburat warna  kelabu  bernama Hernia Nucleus Pulposus. Aku tak marah pada Tuhan, karena sudah memberi warna yang berbeda dari warna cerah ceria yang biasa Dia taburkan dalam kehidupan kami. 



Aku dan Akang

Aku senang menunjukkan bakti pada lelaki separuh jiwa yang meringis-ringis menahan nyeri. Aku bahagia bisa mendampingi dia dalam sakitnya . Aku ikhlas menyuapkan makanan, membantu  buang air, mengambilkan wudhu, memapah tubuhnya kala ingin ke toilet, membasuh badannya agar lebih segar dan bersih, mendengar apa yang dikeluhkan, tetap tersenyum menghadapi ungkapan rewelnya kala sengatan nyeri memuncak, mendiskusikan langkah pengobatan  yang akan diambil, membelai dan menciumnya untuk menunjukkan kasih sayangku. Tentu aku bersyukur  memiliki kesempatan melakukan hal-hal itu,  karena cinta bukanlah sekedar kata.

Hanya, ada saat-saat  tertentu yang terasa berat kujalani sebagai perempuan cengeng alias mudah meneteskan air mata. Di saat  nyeri hebat menyiksa Akang, sungguh sulit bersandiwara  memasang tampang biasa-biasa saja di wajahku. Hati ikut merintih-rintih melihat penderitaan Akang, sementara aku tak mampu melakukan apapun untuk meringankan sakitnya. Rasanya sungguh tak berdaya. Seandainya nyeri hebat itu bisa dibagi dua, pasti sudah kulakukan.  Aku tak boleh menitikkan air mata di depannya kalau tak ingin membuat Akang merasa lebih sengsara. Paling-paling aku masuk ke toilet pura-pura mencuci handuk kecil padahal aku menumpahkan tangis di sana.

Bangun di sepertiga malam, ketika aku mendengar dengkur Akang, terasa terbuka sebuah kesempatan berduaan denganNya. Kutumpahkan segenap rasa kepada Sang Pemilik Kehidupan.  Aku  terisak bersujud memohon  dan mengiba-iba belas kasihNya untuk kesembuhan lelaki belahan jiwaku. 

Siang harinya, Akang berkata dengan cengiran nakal  bertengger di wajah pucatnya.

“Neng kenapa menangis dini hari tadi? Hayooo... ingat sama mantan pacar ya?” Godanya.

Ups... ketahuan  menangis. Aku  tersipu malu.

Rencana Operasi

“Saran yang bisa saya berikan  adalah operasi. Bapak boleh tidak setuju. Saya mempersilakan bila masih ingin mencari cara pengobatan lain. Tapi, sebagai dokter, solusi paling tepat menurut saya adalah operasi. “ Dokter Agus Aulia berkata dengan nada mantap.

Akang termenung. Aku tahu sangat  berat rasanya mengambil keputusan ini.  Kata “operasi “  terdengar begitu menyeramkan.

Beberapa minggu yang lalu dia pernah mencoba pengobatan  rehabilitasi medik di rumah sakit  Advent Bandung. Saat itu memang dokter di sana berhasil membuat nyeri pinggangnya hilang seketika.  Sebelum ke Bandung dia pun sudah mencoba terapi pijat di Jogjakarta, yang juga berhasil menghilangkan nyeri pinggangnya. Tapi ternyata  akar permasalahan nyeri pinggang itu masih tetap ada. Dari hasil CT Scan dan  MRI sebelum dan sesudah terapi alternatif dilakukan, keadaan bantalan tulang yang mendesak sumsum tulang belakang itu masih tetap sama. Artinya hilangnya nyeri pinggang dengan pengobatan alternatif  hanya bersifat sementara. Bila terjadi salah gerakan,atau trauma benturan sedikit saja nyeri pinggang bisa  kembali menyerang, bahkan  makin hebat.

Akhirnya, sakit luar biasa  yang menyengat-nyengat  pinggang dan menjalar hingga ke betis memaksa Akang menerima solusi yang ditawarkan pria di hadapannya itu.

“Ya. Apa boleh buat kalau itu jalan yang terbaik. Menurut dokter di mana sebaiknya melakukan operasi itu, dok? “ Ucapan Akang terdengar lirih.

“Saya sarankan operasi dilakukan di RSPAD. Rumah sakit itu sudah berpengalaman menangani masalah HNP terutama yang terjadi pada para tentara. Di sana operasi akan dilakukan dengan metode “micro surgery” dengan luka yang minimal. Dibantu laser, sayatan operasi hanya akan dilakukan tepat di tempat yang bermasalah. Jadi dengan micro surgery, proses penyembuhan akan lebih cepat. “ dokter Agus Aulia berdehem kecil sebelum melanjutkan penjelasannya.

“Untuk kasus Pak Sutedja ini, tak perlu khawatir. Operasinya tidak akan rumit kok. Yang akan dilakukan hanya membuang bantalan yang menonjol itu sehingga tak ada lagi yang menekan sum-sum tulang belakang. “

“Saya harus mendiskusikan masalah ini dengan istri saya dan dokter perusahaan, dok. “ Akang mengalihkan pandangannya ke arahku.

“Oh, tentu saja. Beri tahu saya bagaimana nanti keputusannya ya.“ Ujar sang dokter sebelum berlalu.

Selanjutnya Akang terlibat perbincangan dengan dokter-dokter perusahaan via telepon. Mereka mengusulkan untuk melakukan operasi di Rumah Sakit Pondok Indah. Di sana Akang disarankan berkonsultasi dengan DR. dr  Lutfi Gatam Sp.OT. Beliau adalah dokter spesialis bedah orthopaedi dan traumatologi- konsultan tulang belakang, salah satu dokter Indonesia yang terbaik di Asia.

Akhirnya setelah memikirkan berbagai pertimbangan, kami sampai pada sebuah keputusan bahwa operasi akan dilakukan di rumah sakit Pondok Indah.



Ruang Perawatan RS Pondok Indah

Selanjutnya, aku membereskan semua urusan administrasi rumah sakit. Sore itu, Senin 3 November 2014 Akang dibawa menuju Rumah Sakit Pondok Indah dengan ambulance didampingi perawat RS Pertamedika. Serah terima pasien dilakukan di Instansi Gawat Darurat  RS Pondok Indah.

Persiapan dan Operasi

Jarum jam telah menunjukkan pukul 22.00 ketika seorang pria separuh baya memasuki ruang kamar. Pria itu di dampingi seorang perawat dan pemuda berjas  putih yang tampaknya seorang dokter muda.

“Selamat malam, Pak. Saya dokter Lutfi Gatam. Bagaimana kondisinya? “ Pria itu membuka percakapan.

Akang menjelaskan kronologis penyakitnya. Pemeriksaan berlangsung cepat. Dokter Lutfi meneliti hasil CT Scan dan MRI hanya beberapa menit saja sampailah dia pada sebuah keputusan.

“Ya. Kita operasi saja. Besok persiapan operasi, dan lusa kita lakukan. “ Tegasnya.

“Apakah dengan metode micro surgery seperti yang ada di RSPAD, Dokter? “ Tanya Akang.

“Wah, disini malah lebih canggih. Kita akan lakukan dengan endoscopy, sebuah operasi minimal invasif yang disebut  Micro Endoscopic Disektomi (MED) . MED itu adalah tindakan bedah pada kelainan penekanan syaraf di tulang belakang dengan menggunakan camera dan luka sayatan yang kecil, lebih minimal daripada micro surgery. “ Penjelasan dokter Lutfi Gatam seakan mengangkat beban berat yang mengganjal hatiku.

Dari hasil browsing yang kudapat, keunggulan Metode MED adalah sebagai berikut :

1.      Sayatan kecil, hanya 1-1.5 cm saja
2.      Sedikitnya kerusakan jaringan lunak
3.      Kosmetik lebih baik
4.      Penyembuhan lebih cepat
5.      Mengurangi nyeri
6.      Sedikit komplikasi
7.      Pendarahan operasi minimal

Dengan metode ini operasi gangguan tulang belakang bisa lebih berhasil karena tidak mengubah anatomi tubuh dan tidak melakukan penggeseran otot-otot tubuh. Secara tidak langsung menggunakan metode ini membuat cost yang dikeluarkan bisa lebih minim.

Dalam hati aku berharap, semoga  operasi ini berjalan lancar dan sukses, dan proses penyembuhan berlangsung cepat.

Persiapan pun dilakukan. Hari Selasa 4 November 2014, Akang menjalani pemeriksaan rekam jantung, check darah dan urine, photo thorax, konsultasi dengan dokter jantung, dokter  penyakit dalam dan dokter anestesi. Alhamdulillah hasilnya baik.

Rekam jantung

Konsultasi dengan dokter jantung

Check darah

Keesokan harinya, Rabu 5 November 2014, Akang diminta untuk puasa sejak pukul 5 pagi. Rencana operasi akan dilakukan pada pukul 11.00.

Pukul 10.30, dua orang suster menjemput ke kamar. Akang terlihat tenang, sementara aku berusaha terlihat tenang. Hiks... Lututku terasa lemas dan tanganku dingin. Aku mendampingi Akang  yang terbaring di  brankar menyusuri  lorong rumah sakit, masuk ke lift hingga sampai di ruang operasi lantai 2 wing B.
Menuju ruang operasi
“Ruang Operasi”. Begitulah tulisan yang terpampang di pintu masuknya. Aku merasakan ketegangan ketika pintu terkuak.

“Saya boleh masuk? “ Tanyaku ragu pada seorang suster.

“Boleh, tapi hanya sampai ruang peralihan ya, Bu. Tidak boleh masuk ke ruang operasinya karena di sana harus steril dari kuman. “

Ada sebuah ruang peralihan tepat di depan pintu  ruang operasi. Aku melihat melalui pintu kaca ada berbagai alat pemantau kondisi pasien. Petugas-petugas medis lalu lalang di ruangan  dengan baju hijau seragam operasi. Rambut mereka tertutup penutup kepala hijau dan wajah  tertutup masker.

Pukul 10.44. Aku mengecup kening Akang, dan menatap seulas senyum di bibirnya sebelum dia dipindahkan ke brankar lainnya.

Sesaat sebelum masuk ruang operasi
“Doain ya..” Ucap Akang sesaat sebelum brankarnya didorong masuk ruang operasi.

Berbagai doa dan asma Allah kuucapkan dalam hati. KepadaNya aku menitipkan semua harapanku buat kesembuhan Akang.

Seorang petugas medis dari ruang operasi memanggilku. Dia menyodorkan sehelai kertas persetujuan operasi MED yang harus ditanda tangani.

“Ibu, silahkan menunggu di ruang tunggu. Disana ada lampu indikator ruang operasi. Bila lampu itu menyala, artinya operasi sedang berlangsung. Bila lampunya sudah padam artinya operasi sudah selesai. Suami Ibu di operasi di ruang 2. Nanti kalau operasinya sudah selesai kami akan memberitahu.“ Jelasnya.

Lampu indikator operasi
Lalu terduduklah aku di ruang tunggu. Dengan hati berdebar, tangan dingin dan perasaan cemas menggerayangi hati. Kutuliskan sebuah status di facebook, berharap doa yang menentramkan hati. Reaksi begitu cepat. Komentar-komentar bermunculan dan sebagian besar berisi doa dan harapan untuk kesembuhan Akang. BBM, Whatsapps dan inbox dari teman-teman bermunculan, semuanya menguatkanku. Terimakasih teman-teman..

Pukul 12. 54, seorang petugas medis muncul dari pintu ruang operasi.

“Keluarga Bapak Sutedja!” Teriaknya.

Aku bergegas menghampiri, masuk ke ruang peralihan.
Di ruang pemulihan pasca operasi

“Ibu, Bapak sudah selesai operasinya. Tapi dia masih dalam pengaruh bius. Kami masih akan terus memantau kondisinya. Nanti setelah benar-benar sadar dan kondisinya baik baru akan diantar ke kamar perawatan. “ Jelas petugas medis bermasker itu.

Aku menatap Akang yang terbaring di ruang pemulihan melalui pintu kaca. Lega rasanya. Setidaknya satu langkah penyembuhan telah kami lalui.

Pukul 16.45 Akang sudah kembali berada di kamar perawatan. Alhamdulillah dia sudah ngobrol dan tertawa lagi ditemani sahabat lama dan ayah mertuaku. 

“Alhamdulillah... nyeri hebat itu sudah tidak terasa lagi. Ternyata operasi itu tidak seseram yang dibayangkan. Langkah ini jauh lebih baik daripada bertahan menahan sakit hanya karena takut menjalani operasi. “ Ujarnya ketika kutanya bagaimana kondisinya.

Dukungan Sahabat, Teman dan Keluarga

Kawan-kawan,  bila kalian tertimpa sakit atau musibah, janganlah diam-diam saja. Kalian tak akan tahu betapa besar kekuatan doa dan dukungan semangat dari keluarga, sahabat, tetangga dan teman-teman bisa membangkitkan ketegaran menghadapi cobaanNya.

Mulanya kami tak cerita pada siapapun mengenai kejadian Akang yang tengah sakit, hingga beberapa saat akhirnya satu persatu tetangga dan rekan kerja Akang  mengetahui kejadian itu. Bahkan pada orangtua dan saudara, kami baru menceritakan hal itu setelah Akang terbaring di RS Pertamedika Sentul. Keterlaluan? Ya, memang. Hiks... Kami berkilah tak memberitahu siapa pun karena tak ingin menyusahkan, tak ingin membuat orang-orang khawatir dan sebagainya. Tampaknya seperti alasan yang baik, tapi ternyata itu sebuah kesalahan.

Pak Sitepu dan Bu Emi, tetanggaku yang menjenguk ke rumah sakit menyesalkan tindakanku tak memberi tahu kondisi Akang.

“Ya ampuun, kenapa ke toilet pakai loncat-loncat? Coba kalau cerita, nggak diam-diam saja. Pasti tidak sampai parah begini kejadiannya. Aku kan punya kruk (tongkat ketiak), tuh ada.. nganggur di rumah. Kan bisa kupinjamkan.” Ujar  Bu Emi sengit.

Aku dan Akang hanya bisa nyengir kuda. Malu. Tersadar telah melakukan kesalahan.

Gelombang simpati dan perhatian  saudara, rekan-rekan kerja Akang, teman-temanku, sahabat dan tetangga terus mengalir. Sejak Akang masih di rumah, rekan-rekan kerja sudah menyambangi kami, mendoakan dan memberi semangat untuk kesembuhan Akang.






Demikian juga saat di rumah sakit Pertamedika.  Teman-teman arisanku, teman pengajian, teman club motor, dan tetangga silih berganti menengok kami. Di Rumah Sakit Pondok Indah pun  sahabat-sahabat lama kami rela menemani menghapus galauku kala menunggu operasi Akang berlangsung hingga usai.

Ayah mertuaku datang dari Palembang, dia tiba di rumah sakit saat Akang telah berada di ruang pemulihan pasca operasi.

Perkara menyediakan waktu  menjenguk teman, tetangga, saudara dan kenalan yang sakit ternyata bukanlah hal sepele. Ada rahmat yang terkandung bagi orang yang melakukannya dan juga bagi orang yang dijenguk. Tak heran mengapa  anjuran menjenguk orang yang sakit disebutkan dalam beberapa hadits, salah satu di antaranya sebagai berikut :

Diriwayatkan dari Ali  r.a.,  ia  berkata:  Saya  mendengar   Rasulullah saw. bersabda: 

"Tiada seorang muslim yang menjenguk orang muslim lainnya pada pagi hari kecuali ia didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga sore hari; dan jika ia menjenguknya pada sore hari maka ia didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga pagi hari, dan baginya kurma yang dipetik di taman surga." (HR Tirmidzi, dan beliau berkata, "Hadits hasan.")

Aku kini  merasakan bagaimana dukungan moril dan perhatian orang-orang terdekat yang meluangkan waktu menjenguk, menghibur dan mendoakan kesembuhan Akang   mendatangkan kekuatan bagi kami. Rasa bahwa kami tak sendiri, ada banyak orang  yang mengharapkan kesembuhan Akang membuat kami merasa lebih nyaman. Alhamdulillah...betapa nikmat hikmah silaturrahmi.

“Kabarilah saudara, tetangga, kenalan, kerabat, teman dan sahabat bila tengah sakit atau tertimpa musibah. Kenapa? Karena makin banyak yang mendoakan akan makin baik. Kita tak pernah tahu, doa siapa yang diijabahNya dengan cepat. Mungkin saja doa tulus yang datang dari salah seorang kerabat atau teman kita  membuat Allah membukakan pintu kesembuhan dan jalan keluar dari permasalahan kita. Kalau kita tak mengabari, kita menghilangkan kesempatan memperoleh doa makbul dari orang-orang yang tulus.  “ Demikian nasehat salah seorang sahabat yang membuat mataku berkaca-kaca. Alhamdulillah...

7 komentar:

Rizki Putra Prastio mengatakan...

Wah saya juga punya sakit semacam itu. Kalau kumat punggung rasanya mau copot. Semoga akangnya selalu baik ya mbk

Imam mengatakan...

Alhamdulilah... semoga di berikan kesehatan selalu, dan akan selalu memberi manfaat kepada alam semesta beserta isinya... terimakasih sudah berbagi cerita...

kebetulan sodara saya ada yang kenak jg, dan tidak di operasi karna masih ragu, dan sampe skrg kita masih berteman dengan HNP...

oh iya, bagaimana kabar bapaknya sekarang? sudah bisa beraktifitas seperti biasa?...

Juliana Dewi mengatakan...

@RizkiPutra Prastio : Aamiin...
@Imam: Alhamdulillah sudah sehat seperti sedia kala, sudah touring kemana-mana :-)

Unknown mengatakan...

papah saya juga menderita HNP sampai saat ini masih mencari dokter yang tepat, maaf mbak berapa grand total biaya untuk tindakan operasinya ya? terimakasih

mindranugraha18@gmail.com

opipolla mengatakan...

akuuu punya Low Back Pain,
tapi aku sembuhnya pake hidroterapi mba, belum sembuh betul sih, tapi lumayan jauuuhh berkurang sakitnya

cepet sembuh ya mbak, suaminya...

Juliana Dewi mengatakan...

@opipolla : Alhamdulillah suamiku sudah sembuh. Terimakasih doanya

Anonim mengatakan...

Kemaren 13 februari 2017 ibu juga ditangani oleh dr agus auliya di RSPAD gatot subroto melalui bpjs, ibu menderita penyakit tumor jinak dibatang otak, dan alhamdulilah setelah melalui serangakaian tahapan operasi dan proses operasinya sekarang ibu sudah sembuh dari sakitnya, terimakasih dr agus auliya, salam hormat kami dari pasien ibu nursiah yg bera─Ća di lampung ��