Minggu, 20 Juli 2014

Tips Memilih Travel Mate

Venezia

Travel mate atau teman seperjalanan bisa membuat  acara traveling bersama jadi menyenangkan, membosankan atau  menyebalkan.  Kenapa? Ya karena sejatinya travel mate itu adalah partner, orang terdekat yang selama traveling selalu bersama kita. Bisa dibayangkan tidak enaknya bila travel mate susah diajak diskusi, selalu berbeda pendapat,  tidak bisa kompromi, atau tidak jujur.

Dulu, saat masih jadi ABG kinyis-kinyis, merencanakan traveling bareng teman itu rasanya asyik banget. Pokoknya baru membayangkan saja sudah indah deh! Teman yang ikut bersamaku sebenarnya bukan teman akrab. Kami hanya sesekali mengobrol. Saat mengobrol itulah tercetus ide jalan-jalan bareng.  Ketika itu aku masih tinggal di Palembang. Bukan  jalan-jalan ke luar negri, hanya antar propinsi saja. Tapi buat aku yang saat itu masih ABG, bisa jalan-jalan dari Palembang ke Bandung hanya dengan teman  itu keren banget!

Rencana pun di jalankan. Kami  naik kereta, dari Palembang ke Bandar Lampung. Di Bandar Lampung mampir dulu ke rumah tante-tanteku. Ada udang di balik rempeyek sih... siapa tahu tante atau om-ku  ada yang  mau nambahin ongkos. Hihihi... dasaar!

Tanteku membekali aku  nasehat ini itu. Diantaranya harus hati-hati sama orang asing, tapi juga jangan jutek. Harus bisa jaga diri, dan sebagainya.

Singkat cerita, setelah menyebrang dengan kapal ferry, lalu naik bus, kami sampai di Bandung. Mula-mula menyenangkan, kami menginap di rumah tanteku yang tinggal di Bandung. Lalu mulai ada konflik, ketika teman seperjalananku memiliki standar kebersihan yang berbeda. Kamar mandi kotor karena ulahnya, tapi ketika diberi tahu dia tidak terima. Terpaksalah dengan hati mangkel aku  membersihkan kamar mandi itu. Soalnya malu sama tanteku kalau ketahuan kamar mandinya jadi jorok.

Selanjutnya saat jalan-jalan bersama sepupuku, si teman perjalananku tiba-tiba bertemu dengan seseorang yang baru beberapa menit di kenalnya, lalu dia minta izin memisahkan diri  jalan bareng orang itu. Sempat ribut sedikit, aku merasa khawatir dia pergi bersama orang yang baru saja dikenal. Apalagi aku merasa bertanggung jawab atas keselamatannya, karena ibunya temanku itu menitipkan dia padaku. Tapi karena temanku tetap memaksa pergi, ya apa boleh buat. Aku terpaksa membiarkan dia pergi.

Selanjutnya, aku jalan-jalan bersama sepupuku saja. Sore hari kami pulang ke rumah tante. Temanku itu belum pulang. Mulailah mood-ku rusak oleh rasa cemas. Aku benar-benar khawatir. Waktu itu tidak ada handphone. Aku tak tau dia ada dimana, kalau harus mencari pun tak tahu harus mencari kemana. Hari telah mendekat tengah malam ketika akhirnya temanku itu pulang dengan wajah cengengesan tanpa rasa bersalah.
Sejak itu, acara jalan-jalan yang tadinya menyenangkan jadi menyebalkan. Makin banyak konflik dan perbedaan prinsip antara aku dan temanku.  Termasuk juga masalah keuangan. Temanku itu ternyata tak membawa uang yang cukup, padahal sebelumnya aku sudah menghitung-hitung dan mengatakan padanya  berapa uang yang harus kami bawa supaya bisa traveling dengan nyaman. Temanku itu rupanya tipe  nekat. Jangankan  ongkos pulang ke Palembang, untuk ongkos transportasi naik angkot wara-wiri di Bandung  saja dia minta dibayari. Lalu dia  memaksa pinjam uangku, sehingga budgetku untuk beli oleh-oleh terpaksa   berkurang. Puncaknya, kami tak lagi bisa akur. Kami tidak pulang berbarengan, aku pulang ke Palembang duluan, sedangkan dia masih nekat jalan-jalan ke Jakarta bersama teman barunya dan kembali seminggu kemudian.

Pengalaman itu membekas dalam memoriku, sehingga aku berusaha hati-hati memilih travel mate. Bila  travel mate  tepat, acara jalan-jalan menjadi sangat menyenangkan, bahkan menjadi kenangan manis yang ingin diulang lagi.

Waktu aku jalan-jalan ke Eropa tahun 2011 lalu, aku berangkat bersama sahabatku, Mariska. Kami akrab sejak menjadi mahasiswi fakultas teknik di sebuah perguruan tinggi di Palembang. Sejak zaman kuliah , aku sering bersamanya. Bahkan kadangkala 24 jam selalu bareng. Mulai dari kuliah , istirahat dirumahnya,  keluyuran di toko beli alat-alat gambar, makan martabak malabar  di warung tenda, mengerjakan tugas sambil bergadang sampai subuh, ketiduran, lalu lanjut kuliah lagi. Jadi aku sudah benar-benar memahami dia  dan diapun demikian.

Brussel -Belgia

Innsbruck- Austria

Koln- Germany

Luzerne- Swiss

Paris-France

Rome- Italy

Swiss

Mount Titlis

Amsterdam

Perjalanan ke Eropa sangat mengesankan. Kami kompak dalam segala hal. Kami berbagi kamar di hotel, belanja, berfoto-foto, ngobrol dan menikmati setiap momen di semua tempat wisata  yang kami kunjungi. Rasanya ingin lagi jalan-jalan bareng Mariska.

Bangkok-Thailand

Pattaya Beach- Thailand


Ho Chi Minh City- Vietnam

Lalu waktu aku traveling ke Bangkok dan Vietnam, aku berangkat bersama teman-teman SMA-ku, Doly, Nida, dan Eyik. Pengalaman itu juga sangat menyenangkan. Kami ber-empat rukun, meskipun tak selalu bersama karena untuk urusan belanja  dan wisata kuliner minat  dan selera kami berbeda-beda. Tak pernah ada konflik yang membuat bete. Kami malah makin akrab. Traveling bareng merekatkan hubungan kami yang sempat terpisah puluhan tahun sejak tamat SMA.
KL Gallery

Kuala Lumpur

Kuala Lumpur

KLCC-Kuala Lumpur

Awal tahun 2014, aku ke Kuala Lumpur lalu bergabung dengan teman-teman baru, Novi dan Indari dari komunitas  Ibu-Ibu Doyan Nulis. Sebelum merencanakan ke Kuala Lumpur, kami hanya pernah bertemu sekali saja selama beberapa jam, di acara kopi darat Ibu-Ibu Doyan Nulis di Bogor. Di Kuala Lumpur  aku  juga mendapat teman baru, Harti, seorang gadis muda yang jago dibidang advertisement. Meskipun mereka baru saja kukenal, tapi ternyata mereka  travel mates yang sangat menyenangkan. Kami langsung cocok satu sama lain. Senang sekali berbagi ilmu, pengalaman dan cerita bersama. Kami jalan-jalan, berfoto ria, mengadakan event pelatihan menulis dan bisnis, masak bareng di apartemen Novi, makan bersama dan berdiskusi tentang banyak hal. Traveling ke Kuala Lumpur juga meninggalkan kesan yang sangat dalam buatku, karena travel mates yang sangat keren! Hehehe....

 Mencari travel mate yang tepat itu sebenarnya gampang-gampang susah. Tapi sebagai ancang-ancang  tips berikut ini mungkin bisa dijadikan bahan pertimbangan :

  • 1.       Kenali “calon “ travel mate-mu.  Kalau dia memang sahabat dekat, yang sudah benar-benar saling memahami sifat dan prilaku  termasuk juga kebiasaan sehari-hari,   tentu tidak masalah. Tapi  ingat, belum tentu teman kerja yang setiap hari bertemu di kantor , atau teman sekolah cocok menjadi travel mate.  Tapi belum tentu juga teman yang baru dikenal tidak cocok jadi travel mate. Jadi kuncinya, kenali dia lebih dalam. Ajak ngobrol, berdiskusi dan mulailah membuat penilaian apakah dia orang yang mudah diajak kompromi, memiliki toleransi, kejujuran,  dan kesabaran  dalam menghadapi masalah.

  • 2.       Sejak awal bicarakan rencana traveling pada calon travel mate, apakah akan sharing biaya, bagaimana itinerary-nya,  kalau perlu sampai hal yang sekecil-kecilnya, misalnya siapa yang nanti mandi duluan di kamar hotel, bagaimana standar kerapian dan kebersihan saat berbagi kamar di hotel, dan lain-lain. Kalau kelihatannya cocok, maka mudah-mudahan dia travel mate yang tepat.

  • 3.       Pilih travel mate yang easy going, artinya tidak ribet dan tidak merepotkan. Kebayang kan kalau travel mate sangat hobi belanja, sehingga kita terpaksa harus ikut membantu mengangkat-angkat barang belanjaannya yang segudang ? Atau ternyata travel mate adalah orang yang gampang ngambek atau sangat perasa, atau sangat manja dan suka mengeluh. Bete kaan... Jangan sampai lah yaaaww...

  • 4.       Cari travel mate yang selalu berpikiran positif. Ini sangat membantu membuat acara  traveling menjadi menyenangkan.

  • 5.       Pilih travel mate yang sehat. Lho kenapa? Ya iyalah... kalau travel mate gampang sakit kan jadinya repot juga. Kita harus merawatnya, mijitin, kerokin, menemani dan sebagainya. Bisa-bisa acara traveling gagal total, rencana mau jadi traveler malah berubah jadi suster karna harus merawat teman seperjalanan. Nggak asyik kaan?


Happy Traveling!


11 komentar:

Nunu mengatakan...

Bener banget mbak. Travel mate menentukan nasib traveling kita ya. Kudu cocok satu sana lain

Dewi Sutedja mengatakan...

@Mbak Nunu : travel mate harusnya jadi soul mate selama traveling ya...hehehe

Alaika mengatakan...

Sepakat banget dengan kelima tipsnya, Mba. Memang harus selektif dan hati2 dalam memilih travel mate agar jalan2 kita pun aman, nyaman dan happy. :)

Lidya - Mama Cal-Vin mengatakan...

terika kasih tips memilih travel matenya mbak

astri damayanti mengatakan...

Kebayang kalau travelling gak ada temennya .. mau motret aja harus nyari bantuan orang atau kepeptnya supir taksi yang disuruh motret ... hehhehhehehe

BundaShidqi Lia mengatakan...

wow, luar biasa, jadi kepengeen, kapan yaa, giliranku :)

Dewi Sutedja mengatakan...

@Alaika : siip... terimakasih sudah mampir kesini yaa

Dewi Sutedja mengatakan...

@Lidya Mama Cal-Vin :Sama-sama...

Dewi Sutedja mengatakan...

@Astri Damayanti : Kalau aku biarpun bersama teman tapi tetap kudu bawa tripod untuk urusan motret. Soalnya kadangkala susah cari orang uyang mau motretin karena mereka juga pada sibuk pengen dipotret. hihihi..

Dewi Sutedja mengatakan...

@Bunda Shidqi Lia: pasti nanti dirimu juga bisa..

violetya mengatakan...

Mau mba jadi travelmate-nyaaaa :)
Salam kenal yaaa