Selasa, 08 Juli 2014

Meraih Manfaat Silaturrahmi Bersama Komunitas yang Positif

Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis

Senang punya  banyak teman adalah sesuatu yang wajar sesuai kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Akupun demikian. Sebagai muslimah aku percaya manfaat bersilaturrahmi.

Sejalan dengan kegiatanku sebagai ibu rumah tangga, aku selalu menyempatkan diri untuk bergabung dalam berbagai komunitas, baik komunitas online maupun offline. Mulai dari pengajian, persatuan wali murid, komunitas menulis, komunitas blogger,komunitas travelling, komunitas motor,komunitas lingkungan RT, dan lain-lain.

Pengalamanku bergabung dengan berbagai komunitas telah memberiku beberapa pelajaran berharga. Salah satunya, aku sekarang harus pandai-pandai memilih komunitas mana yang memberi  manfaat positif. Sebab bila salah pilih, akibatnya akan merugikan diri sendiri.

Suatu ketika, aku pernah bergabung di sebuah komunitas ibu-ibu rumah tangga. Mulanya sangat mengasyikkan berinteraksi dengan mereka. Kami sering jalan bersama, bertukar cerita tentang keluarga, anak dan keseharian. Ada kalanya kami  berbagi resep masakan dan saling mengajari keterampilan yang kami bisa. Tapi setelah lebih jauh aku mulai merasa tidak nyaman.

Kesenangan para ibu itu membicarakan keburukan orang menjadi pangkal timbulnya konflik. Di tambah lagi sebagian ibu-ibu yang lain sering menyampaikan gosip dan pergunjingan kepada orang yang bersangkutan. Akibatnya bisa ditebak, si penggosip dan orang yang digosipkan akhirnya bertengkar. Parahnya mereka terlibat perkelahian sampai beradegan gulat di tengah lapangan. Astagfirullah....

Kaget, heran dan kecewa sekali rasanya melihat prilaku para ibu yang semestinya menjadi contoh bagi anak-anaknya. Setelah itu, selesaikah masalahnya? Tidak. Pihak yang berseteru lalu masing-masing mencari dukungan dari teman-teman lain. Caranya mereka mendekati ibu-ibu lain lalu mulai menularkan “ virus” negatif menjelek-jelekkan lawannya dengan harapan memperoleh dukungan dalam berseteru.  Aku jadi ingat jurus-jurus partai politik yang menggunakan berbagai trik  untuk meraih kemenangan, hanya saja yang ada dihadapanku saat itu dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga. Mereka saling mencela, mengejek, memfitnah dan mempersulit lawannya. Tak ada lagi nikmat persahabatan. Komunitas itu akhirnya malah terpecah-pecah.

Melihat gelagat buruk itu, aku segera mengundurkan diri . Aku tak lagi menghadiri acara kumpul-kumpul, atau apapun yang memungkinkan aku berinteraksi lebih lama dengan mereka. Dikelilingi “virus-virus negatif” seperti itu sungguh membuatku tak nyaman.

Lalu aku pindah ke Bogor. Di kota ini aku menemukan banyak hal yang lebih baik. Orang-orang di Bogor lebih ramah, lebih santun dan  menyenangkan. Aku segera bergabung dalam bermacam-macam komunitas. Mulai dari komunitas wali murid di sekolah anak-anakku, pengajian di Masjid Raya Bogor, pengajian di sekitar rumah, dan perkumpulan warga clusterku.

Komunitas wali murid menjadi wadah saling berbagi informasi seputar kegiatan sekolah anak-anak. Saling memberi tahu bila ada PR, tugas atau kegiatan diluar sekolah dilakukan melalui BB group, atau saat berkumpul untuk arisan. Dalam  mengisi liburan pun komunitas ini sangat kreatif mengadakan acara jalan-jalan bersama atau mengajak anak-anak mengikuti pesantren kilat,   kursus kerajinan tangan sesuai minat anak dan kegiatan lain untuk mengasah keterampilan anak.

Pengajian baik di masjid  maupun di lingkungan rumah juga membangkitkan energi positif.  Bersama-sama belajar ilmu agama dan saling menasehati dalam kebaikan membuat aku merasa memiliki keluarga baru.  Selain itu  komunitas ini sering mengadakan kegiatan amal untuk menebar kepedulian kepada kaum dhuafa.
 Aku juga ikut bergabung dalam komunitas warga clusterku. Tetangga adalah saudara terdekat. Dalam keadaan darurat, bila aku membutuhkan pertolongan sesegera mungkin, maka orang yang paling mungkin kumintai bantuan adalah tetangga, bukan saudara-saudaraku yang tinggal nun jauh di pulau Sumatera sana. Karna itu sangat penting menjalin hubungan yang baik dan harmonis dengan tetangga. 

Warga di lingkungan clusterku datang dari berbagai latar belakang suku, ras dan agama. Tapi menjalin kebersamaan dengan mereka tetap menyenangkan.  Kami tidak membicarakan perbedaan tapi berangkat dari kesadaran bahwa kami tinggal di lingkungan yang sama, maka timbullah rasa kebersamaan. Aku senang  bisa hidup  rukun  dengan tetangga meskipun memiliki   latar belakang berbeda.

Di lingkungan cluster setiap bulan  diadakan arisan untuk ibu-ibu. Kami juga sekali-sekali  mengadakan jalan-jalan bersama, perlombaan, atau kumpul-kumpul makan bersama bila ada kesempatan khusus, misalnya berakhirnya periode arisan, merayakan hari kemerdekaan , atau menyambut tahun baru. Berbagi informasi seputar lingkungan taman dan rumah tempat tinggal kami pun aktif dilakukan melaui BB group  dengan tujuan saling menjaga dan memelihara kenyamanan lingkungan cluster kami.

Karena hobi jalan-jalan naik motor, eh..dibonceng motor, maka aku dan suamiku bergabung dalam komunitas motor besar. Di Bogor, komunitas ini sangat aktif. Anggotanya banyak dan seringkali mengadakan acara touring bersama.


Suamiku yang hobi motor merasakan banyak sekali manfaat bergabung dalam komunitas  ini. Sesama anggota komunitas sering sharing  seputar perawatan motor, info tentang suku cadang,  info lokasi touring dan lain-lain.

 Di komunitas ini aku juga punya beberapa teman. Mereka  istri-istri yang sering diajak suaminya ikut touring seperti diriku.  Kami sering janjian ikut touring bila ada event yang diselenggarakan komunitas motor. Aku merasa lebih nyaman bila  dalam rombongan touring ada sesama wanita yang ikut.

Selain komunitas off-line, aku juga bergabung dalam komunitas on-line yang sesuai dengan minatku. Karena  suka menulis dan nge-blog maka aku bergabung dalam komunitas penulis dan blogger. Jelas sekali manfaatnya karena anggota komunitas  tersebut sering membagikan ilmu, tips dan kiat-kiat jitu untuk meningkatkan kemampuan menulis atau meningkatkan performa blog.  Dari komunitas itu pun seringkali aku memperoleh info lomba atau peluang menguji kemampuan  menulis dan nge-blog. Sesekali hadir dalam acara kopdar pun makin mempererat kedekatan dengan anggota komunitas.

Aku juga suka travelling, maka bergabung dalam komunitas traveler menjadi sangat menyenangkan.  Aku bisa memperoleh info dan tips bagaimana melakukan traveling yang asyik, aman dan hemat.  Sekaligus juga aku bisa membagi pengetahuanku selama melakukan traveling kepada sesama teman di komunitas itu.

Bergabung dalam komunitas  yang positif, yang membangkitkan semangat dan energi positif menurutku  sama dengan mereguk manfaat silaturrahmi. Aku merasakan sendiri manfaat silaturrahmi sebagaimana yang terdapat dalam hadits :

 “Barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia bersilaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Banyak teman, banyak saudara, membuat hidup lebih menyenangkan dan hidup yang menyenangkan membuat sehat jasmani dan rohani. Dengan silaturrahmi pintu rezeki terbuka, wawasan dan ilmu makin bertambah, kemampuan meningkat, solusi berbagai masalah pun didapat.

What a happy life!









8 komentar:

Tatit mengatakan...

Setuju banget mbak, gabung dengan komunitas yang positif, jalin hubungan dengan tulus ikhlas

Dewi Sutedja mengatakan...

@Tatit betul. Orang-orang yang menebar energi positif membuat kita makin semangat untuk berbuat yang positif juga

Nunu mengatakan...

Komunitas dengan teman sehoby membuat lebih bersemangat menjalankan hoby

Dewi Sutedja mengatakan...

@Nunu: Setuju Mbak Nunu..

Lidya - Mama Cal-Vin mengatakan...

menambah teman, menambah saudar adan menambah ilm ya mbak bergabung di komunitas

Dewi Sutedja mengatakan...

@Lidya Mama Cal- Vin iya...banyak manfaatnya kalau kita bergabung di komunitas yang positif

jaket kulit garut mengatakan...

ijin menyimak dan berkunjung semoga kita selalu dilancarkan,terimakasih admin

Abdullah Cilebok mengatakan...

Partisipasi dan amal jariyah dalam perluasan dan pembangunan masjidil
haram dan masjid Nabawi

1. Niat Ibadah ( dari Allah,Karena Allah dan untuk Allah)
2. Membawa beberapa batu kerikil kecil yang Haq dari tanah air
3. Point no 2 dapat dibawa sendiri/ dititipkan kepada Jamaah yang akan
berangkat Umroh dan Haji
4. Batu kerikil diletakkan diarea yg sedang dibangun/di Cor semen
5. Atau dititipkan kepada pekerja pembangunan agar diletakkan ditempat
tersebut
6. Mudah-mudahan Allah Ridho dengan apa yang kita kerjakan

* Umumnya waqaf qur'an
* Tidak ada kotak amal di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
* Mungkin Batu kerikil tidak berarti untuk sebagian orang,akan tetapi
jika diletakkan di kedua Masjid tersebut,paling tidak batu kerikil ini
akan menjadi bagian terkecil dari bangunan tersebut.
* Moment Perluasan dan Pembangunan Masjidil haram dan Masjid Nabawi