Selasa, 15 Juli 2014

Aktifkan Tombol Sabar Menghadapi Anak-anak dengan Metode NLP



Sekilas Tentang NLP

Pertama kali  aku mengenal istilah Neuro Linguistic Programming atau NLP dari mulut salah seorang sahabatku , Novi Wilkinson, yang tinggal di Kuala Lumpur. Saat aku mengunjunginya bulan Maret 2014 lalu, dengan penuh semangat dia menceritakan bagaimana metode yang diciptakan oleh Richard Bandler dan John Grinder tahun 1970-an ini dapat digunakan untuk mencapai berbagai tujuan. Mulai dari mengingat pelajaran, melakukan deal dalam berbisnis, mempengaruhi orang sesuai tujuan kita, dan lain-lain.

Penjelasan Novi  yang penuh semangat itu malah membuat keningku berkerut, bibir manyun , mata mendelik. Hihihi...lebay. Apaan sih? Aku  tidak mengerti dan belum bisa membayangkan seperti apa sebenarnya NLP itu.

“Besok ikut aku ya. Kita ke tempat Mbak Oki. Dia  psikolog yang sering memberi pelatihan NLP. Aku yakin, kamu pasti tertarik. “ Seru Novi dengan penuh antusias.

Keesokan harinya, Novi benar-benar mengajakku mengunjungi apartemen cantik yang didiami mbak Oki. Wanita cantik dan langsing itu sangat ramah menyambut kedatangan kami. Di sana aku berkenalan dengan ibu-ibu yang dengan antusias mendengarkan penjelasan Mbak Oki.

Ternyata apa yang dikatakan Novi benar adanya.  Meski aku hanya sekilas saja  mendengarkan hal-hal yang dikatakan Mbak Oki,  materinya sangat menarik.  Kok sekilas? Ya.. sayang sekali karena keterbatasan waktu aku tidak bisa sampai selesai mendengarkan materinya.

Definisi NLP  sangat banyak. Terus terang saja aku yang awam ini malah pusing membaca definisi yang dinyatakan dalam literatur yang ada di” mbah Google”, atau Wikipedia misalnya. Bahasanya canggih dan banyak memuat istilah –istilah di dalam dunia psikologi.  Maklumlah emak-emak rempong kayak aku  begini otaknya sudah nggak sanggup lagi mencerna bahasa tingkat tinggi.

Jadi, aku mencoba mengartikan sendiri  definisi NLP itu menurut pendapatku, sesuai kapasitas otak emak-emak yang sederhana ini...hihihi... Maaf ya kalau salah. #Sungkem-sungkem dulu pada para pakar NLP#
Menurut arti kata, Neuro itu adalah hal-hal yang menyangkut sistem syaraf manusia. Bagaimana manusia menyimpan pengalaman yang di tangkap melalui panca inderanya, yaitu pendengaran, penglihatan, penciuman, rasa dan pengecapan. Sedangakan Linguistic  mengacu pada bagaimana manusia menuangkan perasaan, pendapat, dan reaksinya terhadap sesuatu dalam bentuk bahasa. Dalam hal ini bisa bahasa verbal, bahasa tubuh, ekspresi wajah, dll. Sementara Programming adalah proses pembelajaran atau bisa juga diartikan membuat program..hehehehe.

 Jadi definisi NLP menurutku adalah bagaimana manusia memprogram sebuah cara yang hebat dan efisien  berdasarkan  neuro dan linguistic untuk mencapai tujuannya.  Salah satu contohnya kira-kira begini. Dengan memilih kata-kata yang tepat, diucapkan dengan cara yang tepat dan disertai ekspresi dan gaya tubuh  yang tepat, maka hasilnya makjleb! Mendapat reaksi sesuai tujuan pelakunya. Hadeeh...#ngelap keringet, capek mikir#

Ada banyak hal bisa dilakukan dengan menggunakan NLP. Tanpa kita sadari selama ini kita banyak terperdaya oleh keahlian orang-orang yang menggunakan metode ini. Contohnya para penulis yang menuangkan tulisannya untuk memprovokasi sesuatu, sebut saja misalnya sebuah “black campaign” atau tulisan yang menjelek-jelekkan salah satu calon presiden. Tulisan itu dibuat sedemikian rupa  menggunakan kata-kata dan susunan kalimat  terprogram demi  mempengaruhi pembacanya untuk membenci, kalau perlu membenci setengah mati  capres itu. Bagaimana reaksi pembaca? Tidak sedikit yang terpengaruh. Bahkan dahsyatnya, para pembaca itu lalu menyebarkan lagi tulisan itu supaya lebih banyak orang ikut membenci sang capres. Maka tujuan sang penulis pun berhasil.

Pernah baca artikel yang berjudul “ Oh...Ternyata begini toh Kelakuan Istri Kader PKS?” . Judulnya menggelitik kan? Pasti orang-orang yang hobby gossip, berita miring, dan rumpi merumpi langsung meng” klik” artikel itu demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal isi artikel itu adalah pujian  dan sanjungan terhadap tokoh yang diceritakan. Judul itu sesungguhnya memakai teknik NLP. Membuat pilihan kata yang mengundang keingin tahuan, sehingga orang membacanya.

Bagaimana dengan iklan-iklan?  Aku yakin dibalik iklan yang sukses mendongkrak penjualan sebuah produk, berdiri orang-orang kreatif yang menguasai teknik-teknik NLP.

Selain itu, NLP bisa dipakai buat hal-hal lain sesuai tujuan pemakainya. Misalnya bisa untuk menipu, merayu, mempengaruhi orang supaya setuju atau mendukung  sebuah pendapat. Bisa juga untuk membantu orang  menyembuhkan trauma, kesedihan, membangkitkan semangat dan lain-lain.

Kalau begitu, seperti pisau bermata dua, NLP bisa digunakan untuk hal yang negatif maupun hal yang positif, tergantung siapa yang menggunakannya.

Enlightened and Empowered Parent Training

Sebagai emak-emak, aku  sangat tertarik ketika mendapat info akan ada training NLP  dengan tema parenting. Judulnya “ Enlightened and Empowered Parent” yang diadakan di hotel Oasis Amir Jakarta, tanggal 10-11 Mei 2014.  Langsung daftar!

Senangnya, bisa bertemu lagi dengan mbak Okina Fitriani, M. A., Psikolog yang merupakan nara sumber training ini.

Mbak Oki membuka pembicaraan dengan gaya santai penuh canda. Maka meluncurlah curhat-curhat para emak dan bapak peserta training yang menceritakan prilaku anak-anak mereka. Termasuk aku juga yang meminta masukan bagaimana cara melarang anak melakukan sesuatu.

Mbak Oki mencontohkan dengan sebuah cerita. Seorang Bapak melarang anaknya memainkan HP-nya. Ketika  dia berkata, “ Jangan mainkan HP Papa ya!” Apa yang terjadi pada anak? Yang terbayang dibenaknya adalah HP Papanya yang bagus, ada fotonya, ada game angry bird-nya, dan lain-lain yang makin mendorongnya untuk memainkan HP itu. Lalu yang terjadi justru si anak memainkan HP itu.

Lalu bagaimana caranya supaya tujuan sang Bapak tercapai? Sebaiknya dia berkata “ Jangan mainkan HP Papa ya, Papa sedang menunggu telepon penting. Untukmu sudah Papa siapkan mainan lego yang bagus di kamarmu.”

ReFraming

Salah satu materi yang sangat menohok hatiku dalam training ini adalah metode Reframing. Apa itu ReFraming? Frame adalah cara seseorang melihat atau menilai suatu hal. Misalnya saja ketika  seseorang, sebut saja si A sedang mengendarai mobil  mewah, lalu ada mobil murah yang menyalip lalu mendahuluinya. Apa reaksi si A? Marah? Ingin menginjak pedal gas lebih dalam untuk mengejar mobil murah yang berani-berani menyalip mobil mewahnya? Bila demikian reaksinya, maka bisa disimpulkan bahwa frame yang terbentuk di benak si A kira-kira begini :

“Punya mobil murah kok sombong?” atau “Sekolah di mana itu orang,tidak mengerti peraturan apa? Nyalip kendaraan seenaknya! Awas ya!”

Kalau yang demikian itu yang ada dalam benak si A, sudah pasti reaksi A adalah marah, kesal, bahkan meluapkan emosinya dengan cara memaki atau ngebut mengejar mobil yang menyalip itu.

Tapi dengan menerapkan metode ReFraming, si A bisa  saja memilih persepsi seperti ini :
“Orang itu ngebut mungkin  sedang buru-buru membawa anaknya ke rumah sakit.” Atau “ Oh, dia mungkin sakit perut, kebeletan harus cepat-cepat ke toilet.”

Kalau demikian yang terbentuk di benaknya, maka tentu reaksi A  santai saja.

Contoh lainnya. B  menghadapi orang-orang yang rajin menghina, menjelek-jelekkan,  memaki dan merendahkan dirinya.  Bila reaksi B adalah sedih, marah, kesal, ingin membalas dengan prilaku yang sama buruknya dengan para penghina itu, maka dengan metode ReFraming, B bisa memperoleh sudut pandang yang berbeda seperti :

“Mereka itu penggemarku  tapi dengan cara yang berbeda. Mereka mengganggap aku jauh lebih baik sehingga mereka iri.  Mereka patut dikasihani. Jadi  aku orang yang  lebih beruntung dan lebih baik kehidupannya dibanding mereka.”

Persepsi yang demikian tentu menghasilkan respon yang lebih baik bagi B. Dia tidak akan merasa sakit hati  ataupun mengalami emosi negatif lain yang mengganggu perasaannya.

Kesimpulannya, ReFraming adalah metode yang membantu seseorang melihat sebuah keadaan dengan cara  berbeda,sehingga bisa menghasilkan respon yang terbaik.

Bisakah diterapkan untuk menghadapi  anak? Tentu bisa.  Bagaimana reaksi kita ketika barang kesayangan kita dipecahkan atau dirusak anak-anak? Mau marah, ngomel berkepanjangan, menjewer atau mencubit anak? Atau mau merubah persepsi dengan ReFraming bahwa tidak ada barang kesayangan yang lebih disayang daripada anak. Silahkan pilih sendiri. Hehehe...

Limiting Belief dan  Metamodel- Chunk Down

Berdasarkan pengalaman pribadi, ada kalanya aku merasa sedih atau kesal pada diri sendiri karena merasa punya kekurangan. Misalnya sering dalam benak aku men”judge” diri sendiri sebagai “ orang yang tidak disiplin”. Akibatnya malah parah. Karena hal itu aku malah makin sering tak melakukan apa yang semestinya aku lakukan.  Soalnya” Aku memang orang yang tidak disiplin, kan? “ Pembenaran itulah yang kemudian timbul. Dalam metode NLP hal ini disebut “ Limiting Belief” atau keyakinan mengenai diri atau hal-hal diluar diri yang menghalangi untuk mempunyai pilihan respon yang luas.

Hal yang demikian itu bisa diatasi dengan Metamodel- Chunk Down. Kita tanyakan diri sendiri dengan berbagai pertanyaan. Untuk lebih jelasnya langsung melihat pada contoh sebagai berikut :

Limiting Belief : Aku orang yang tidak disiplin.
Metamodel- Chunk Down :
Tanya ( T) : Tidak disiplin itu yang bagaimana?
Jawab (J) : Tidak rutin dan tidak  tepat waktu.
T : Apakah setiap saat seperti itu? Pernahkah anda disiplin dalam hal tertentu? Kapan pernah bisa disiplin?
J : Tidak setiap saat. Untuk hal tertentu aku disiplin. Aku bangun pagi, shalat subuh, mengurus keperluan anak dan mengantar jemput anak sekolah.
T: Perhatikan perasaan anda saat bisa disiplin. Artinya anda bisa kan?
J: Ya.
T : Bagaimana caranya agar anda bisa disiplin untuk hal lainnya?
J: Membuat to do list dan mematuhinya.
T: Bagaimana perasaan anda sekarang?
J: Mulai sekarang saya bisa disiplin.

Dengan pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban itu runtuhlah keyakinanku kalau aku orang yang tidak disiplin. Yang timbul adalah keyakinan baru  bahwa aku bisa disiplin, sekaligus memperoleh solusi mengatasi ketidakdisiplinan yaitu dengan membuat dan mematuhi to do list yang dibuat sendiri.

Bisakah hal ini diterapkan pada anak? Bisa. Misalnya pada anak yang sudah kadung menganggap dirinya pemalas, tidak percaya diri dan lain-lain. Coba yuk!

Rapport Building

Rapport building artinya membangun kedekatan, dalam hal ini kedekatan dengan anak. Mbak Oki menjelaskan berbagai kiat  membangun kedekatan dengan anak.

Orang tua sebaiknya berfokus pada hal yang baik dalam diri anak, terimalah yang sedikit darinya. Tidak mencela anak tapi sering  memuji perbuatan baik anak.  Ikuti nada suara anak ketika menanggapi perkataannya, bila anak berkata dengan riang maka tampilkan pula nada suara dan ekspresi wajah yang riang.

Sering kali tanpa disadari, orangtua mengungkapkan emosi dengan cara salah. Bila marah diungkapkan dengan marah; bila cemas diungkapkan dengan marah ; bila sedih diungkapkan dengan marah.

Mau tahu contohnya? Dalam hal ini aku menunjuk muka sendiri. Hiks...Kalau marah reaksiku marah, itu sudah sewajarnya. Tapi, pernah suatu hari saat aku menjemput Rafif di sekolahnya. Dari lapangan parkir,aku melambaikan tangan supaya Rafif melihat kedatanganku. Saat itu wajah letih Rafif berubah ceria. Bagai anak panah yang terlepas dari busurnya dia lari melesat menyeberang jalan untuk menghampiriku, tanpa melihat kiri-kanan, sehingga... ups!! Hampir saja tertabrak motor. Ya Allah..Kecemasanku naik ke tingkat paling pol. Bagaimana reaksiku saat itu? Aku marah. Hadeeh... #tutup muka#  Padahal seharusnya aku memeluknya melepaskan kelegaanku, dan mengingatkan Rafif dengan kata-kata yang lembut untuk tidak lagi menyeberang sembarangan. Maafkan mama ya Rafif...

Sering-sering memeluk anak-anak, mencium mereka atau membiarkan anak merasakan kehadiran kita di dekat mereka. Sediakan quality time bersama anak, tidak harus lama, 15 menit pun cukup asalkan benar-benar berkualitas.

Bagaimana menghadapi anak yang berbohong?  Kadang anak berbohong untuk mencari   aman karena orang tua bereaksi terlalu keras terhadap kesalahannya. Ketika anak mengaku, katakan “ Terimakasih sudah berkata jujur” or “ Thank you for being honest” sehingga anak merasa nyaman untuk selanjutnya berkata jujur pada orang tuanya.

Belajar untuk mendengarkan anak dengan tulus. Kebanyakan orang tua sekarang sibuk dengan urusannya, sehingga seringkali tidak fokus mendengarkan anak. Padahal urusannya apa sih? Balas-balas message di HP? Ngutak-ngutik gadget? Meladeni curhatan teman? Hallowww..... Emak-emak! Anak tuh lebih penting!  #jewer kuping sendiri#...hiks...hiks..

Anak lebih peduli pada apa yang dilihatnya daripada apa yang didengar. Mau contoh? Misalnya begini:

Mama sedang asyik  ngetik di laptopnya, lalu Dea datang mendekat.
Dea : “Mama, tadi nilai try out matematika Dea 10, kata Pak Guru...bla...bla..bla..”
Mama : “ Apa? “ ( nggak fokus, masih sibuk ngetik)
Dea : “ Ih, Mama ini. Jadi begini, bla..bla...bla....... Bagus gak, Ma?”
Mama : “ Bagus.” ( Dengan ekspresi datar tetap memandang layar laptop)
Dea : ( Manyun. Masuk ke kamar).
Apa yang terjadi sebenarnya? Kesalahan mamanya adalah :
1.      Tidak mendengarkan dengan tulus
2.      Ekspresi wajah  saat memuji tidak “ sinkron”

Lalu apa yang terjadi pada Dea? Dia kecewa, mulutnya  jadi manyun begitu.  Yang tertangkap di benaknya adalah wajah datar mamanya. Ekspresi datar itu diartikannya bahwa pencapaiannya tak cukup baik buat mamanya, meski mama bilang bagus. Jadi Dea lebih memperhatikan apa yang dilihatnya ( ekspresi wajah datar mama) daripada apa yang didengarnya. Duuuh.... #mewek# Maafkan Mama ya Dea...

Communication Pattern

“ Belajarlah, nak! Kalau tidak belajar  nanti tak lulus ujian!”
Sering mendengar atau mengucapkan kalimat tersebut pada anak? Ternyata itu bukanlah kalimat yang baik untuk membangkitkan semangat belajar anak.

Menurut istilah dalam NLP yang disebut hypnotic languange pattern,  sebaiknya anak diajak membayangkan hasil yang baik. Misalnya “ Mama ingin tahu, bagaimana ya rasanya kalau kamu  lulus dengan nilai terbaik?”
Untuk menyuruh anak mengerjakan PR,  berikan pilihan pada anak. Tapi harus di tentukan dulu tujuannya. Misalnya tujuannya atau Desire State (DS)-nya adalah agar anak mau mengerjakan PR.  Kemudian katakan padanya “ Adik mau mengerjakan PR sekarang atau 5 menit lagi?”. Kalau anak menjawab “5 menit lagi.” sebaiknya pasang alarm yang berbunyi setelah 5 menit. Tidak apa-apa orangtua menunggu selama 5 menit, yang penting tujuan akhirnya yaitu anak membuat PR, tercapai.

Saat sedang mengikuti training, HP-ku berdering. Anin, anakku yang pertama menelepon. “ Mama, Anin bosen di rumah. Mau nonton ya... Anin  pergi sama Dea.” Katanya dengan nada menuntut.

“Mama lagi training, sayang. Kita pake sms saja ya. Kalo telpon nanti menggangu teman-teman Mama yang sedang belajar.” Kataku.

Seketika itu aku mencoba menerapkan konsep yang diajarkan dalam training ini. Aku tak setuju kalau Anin dan Dea pergi ke mall untuk menonton hari ini, karena aku sedang tidak ada dirumah. Aku ingin  aku sendiri yang  mengantar mereka ke mall dan memastikan mereka aman dan baik-baik saja. Artinya kalau mereka mau nonton, tidak bisa hari ini.  Tapi aku tahu bagaimana anak-anakku kalau sudah punya keinginan. Biasanya mereka akan terus merengek sampai aku mengabulkan permintaan mereka.

Mula-mula aku tetapkan tujuanku, atau desire state  : tidak boleh menonton hari ini. Lalu mulailah aku dan Anin berbalas-balasan sms.

Anin :  Ma, Anin pengen nonton “Marmut Merah Jambu”. Anin  pergi sama Dea ya? Bosan Ma, dirumah terus.  Kan Anin sudah selesai UAN. Jadi pengen refreshing dong..
Aku : Dea tadi sudah janji sama Mama hari ini mau belajar. Dia kan belum ujian akhir. Jadi hari ini Dea belajar dulu. Anin mau nonton hari Senin berdua Dea saja atau nontonnya hari Selasa sama Mama dan Bapak?”
Anin: Senin aja deh.
Makjleb... tercapailah tujuanku, tanpa banyak argumentasi dari Anin. Yeeaaay......!

Meminta anak mengerjakan tugas tentu lebih menyenangkan bila memakai kalimat seperti ini ,” Sambil mengerjakan tugas, adik mau dibuatkan apa? Pisang goreng? Milks shake?”

Menyuruh anak berhenti main game lebih asyik bila begini, “ Sudah yuk main game-nya. Main scrabble sama Mama yuk!”

Mau menyuruh anak gosok gigi, katakan saja “Siapa yang belum gosok gigi?”

Satu hal yang sangat penting untuk di perhatikan adalah gunakan intonasi  yang manis, sehingga anak-anak tidak merasa dilarang, disuruh atau diperintah.

 Masih banyak cara berkomunikasi yang dijelaskan dalam training ini, semuanya menarik.  Kalau mau dituliskan masih butuh berlembar-lembar halaman lagi, jangan-jangan yang membacanya nanti keburu capek. Hehehe..

Ada satu hal yang sangat berkesan buatku. Sebuah cara unik  diajarkan di training ini, yang tujuannya untuk memperbaiki kekurangan diri atau untuk membangkitkan kemampuan diri.

Bagaiman caranya? Dengan membuat tombol untuk mengaktifkan energi positif yang kita inginkan.

Misalnya begini. Aku seringkali tidak sabar menghadapi ulah anak-anak. Dalam keadaan tertentu kemarahanku bisa meledak. Karena itu aku merasa perlu membuat “tombol sabar” yang bisa aku aktifkan kapanpun dibutuhkan.

Mula-mula tentukan dulu dimana letak tombol sabar yang kita inginkan. Usahakan tombol itu ada pada tubuh kita, misalnya di sebuah titik di pergelangan tangan, di telinga, atau di mana saja sesuai keinginan.

Dengan petunjuk dan arahan dari Mbak Okina, semua peserta mempraktekkan cara mengaktifkan tombol. Mula-mula peserta berdiri dan berkonsentrasi, menentukan sebuah area, bisa berbentuk lingkaran atau apapun. Lalu di area tersebut peserta membayangkan diri atau mengingat keadaan di mana dirinya dalam keadan yang sabar. Keadaan itu terus dibayangkan hingga para peserta merasakan perasaan sabar memasuki dirinya hingga sedalam-dalamnya.  

Langkah selanjutnya adalah membalikkan  tubuh ke arah yang berbeda. Lalu membayangkan sebuah kondisi yang biasanya membuat peserta marah atau kehilangan kesabarannya. Yang kemudian dilakukan adalah menekan  tombol sabar itu dan merasakan perasaan sabar memasuki diri sampai sedalam-dalamnya hingga bisa menghadapi kondisi yang buruk dengan respon terbaik.

Apakah hanya tombol sabar yang bisa kita buat?  Tentu saja tidak hanya itu. Kita bisa membuat tombol semangat yang bisa diaktifkan sewaktu-waktu bila semangat sedang menurun. Bisa juga membuat tombol gembira, tombol nyaman, tombol rajin, atau apapun sesuai kebutuhan.

Mengikuti training ini seolah membuka mataku menemukan banyak kesalahan yang telah aku lakukan dalam mendidik  anak-anak selama ini. Kesalahan yang tanpa sadar kulakukan itu rasanya ingin kutebus dengan berusaha keras menjadi mama yang terbaik bagi anak-anakku. Semoga aku bisa... Bismillah

Penasaran ingin tahu lebih banyak tentang NLP- Parenting? Ikut saja trainingnya! Yuk...!


9 komentar:

Titi Alfa Khairia mengatakan...

Sangat menarik ulasannya Mbak, jadi pengen memperdalam NLP juga :)

El mengatakan...

Pengen belajar NLP supaya hidup terarah

sri yulianti mengatakan...

tombol tombol positif dalam hidup memang dibutuhkan, apalagi bila menghadapi rutinitas yang itu-itu za. makasih ulasannya mba.. :D

Dewi Sutedja mengatakan...

@Titi Alfa Khairia Ayook... belajar metode ini sangat menyenangkan.

Dewi Sutedja mengatakan...

@Mbak Nunu El : ayok mbak..ikutan trainingnya

Dewi Sutedja mengatakan...

@Sri Yulianti Iya, mbak sama-sama...therimakasih sudah mampir dan baca ulasanku

Vanda Arie mengatakan...

Makasih sharingnya mbak, berasa dicubit nih bacanya :)

Ina Febriany mengatakan...

Kapan lagi ada trainingnya ya mba?

Ina Febriany mengatakan...

Kapan lagi ada trainingnya ya mba?