Sabtu, 21 Juni 2014

Romantisme Nami Island

“ A couple who travel together, grow together” 

Demikianlah sebuah kutipan yang di tulis oleh A. Fuadi dalam bukunya “ Rantau 1 Muara”.  Seperti juga hal yang aku yakini bersama suamiku, si Akang,  saat kami melakukan travelling berdua.  Melalui travelling kami  bisa mengembangkan hobi. Aku hobi menulis, dan suamiku hobi photography. Dengan mengunjungi tempat-tempat wisata yang indah, aku bisa memperoleh ide menulis, dan suami bisa menyalurkan hobi memotret landscape maupun foto untuk dokumentasi pribadi.

Perjalanan yang  kami lakukan di bulan November 2013 adalah mengunjungi  Korea Selatan saat musim gugur tengah berlangsung. Mengapa ke Korea Selatan? Tak lepas dari kenyataan bahwa Indonesia sekarang ini tengah dilanda “demam Korea”. Masyarakat Indonesia telah terjangkiti oleh  budaya musik  pop Korea, produk –produk Korea seperti kosmetika,masakan, barang elektronik sampai banjirnya film drama Korea yang begitu di gemari di Indonesia. Kemajuan yang telah dicapai Korea Selatan membuat kami penasaran, bagaimana sebenarnya negara yang dulu miskin dan tertinggal di banding Indonesia, namun kini telah maju menyalip perkembangan perekonomian Indonesia.

Perjalanan menuju Korea Selatan  memakan waktu lebih kurang tujuh jam dengan menggunakan pesawat. Setibanya di bandara Incheon, suhu dingin bertemperatur 7 derajat Celcius segera menyambut. Saat menghembuskan nafas akan terbentuk uap putih akibat perbedaan  temperatur yang mencolok antara gas karbondioksida yang dihembuskan  dengan temperatur udara.

Kabut tipis menyelimuti kota Incheon menimbulkan kesan keheningan yang syahdu. Dari balik kaca jendela bus yang berembun aku memandang suasana Incheon. Saat itu masih jam 8.30 waktu setempat. Waktu di Korea Selatan lebih cepat 2 jam dibandingkan di Jakarta. Deretan bangunan berbentuk segi empat terlihat disepanjang jalan. Aku tak tahu pasti apakah itu kantor, toko atau rumah makan karena tulisan pada bangunan-bangunan itu semuanya menggunakan aksara Korea berbentuk bulat dan kotak. Bangunan-bangunan itu tutup, belum terlihat  ada aktivitas, mungkin karena masih pagi.

Kami langsung menuju ke pulau Nami. Setelah menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam,  akhirnya bus berhenti di suatu tempat. Kami turun dari bus sambil membawa peralatan photography, lalu tempat pertama yang dituju adalah : toilet! Ya, tak ayal lagi, udara yang begitu dingin membuat kami lebih sering buang air kecil. Setelah memperoleh tiket, kami berjalan menuju sebuah dermaga yang sudah dipadati oleh wisatawan lainnya. Disana kami  menunggu kapal datang untuk menyeberangkan kami ke pulau Nami.

Kapal ferry yang membawa kami ke pulau Nami terdiri dari 2 lantai. Ada ruangan yang berbentuk bundar dengan tempat duduk yang melingkar mengikuti bentuk ruangan. Tapi aku dan suamiku tidak memilih duduk di dalam ruangan karna kami ingin menikmati pemandangan di luar. Di sekeliling kapal dipasang bendera-bendera dari berbagai negara, misalnya Malaysia, Singapura, Jepang, Philiphina,dll. Ada juga bendera merah putih disana.
Kapal Penyeberangan ke Nami Island

Hanya butuh 5 menit saja untuk tiba di pulau Nami . Begitu turun dari kapal ada sebentuk gapura bertuliskan aksara Korea. Suasana musim gugur di pulau Nami segera menyambut.

Aku dan Akang berjalan berdampingan menikmati suasana. Meski banyak orang di sana, tapi  terasa hening. Suasananya menentramkan. Aura romantisme pulau ini demikian kental.  Dalam hati aku bersyukur bisa datang ke sini bersama si Akang.


Sebuah  areal terbuka seperti lapangan yang sangat indah telah mempesona mataku.  Bumi tempat kaki berpijak dipenuhi oleh guguran daun-daun berwarna merah, coklat, hijau kekuningan dan kuning. Daun-daun yang masih berada di ranting pepohonanpun berwarna-warni. Ada pohon yang  tak lagi berdaun karena seluruh daun telah gugur ke tanah. Suasana yang demikian terlihat sangat indah.



Pulau Nami ditumbuhi pohon-pohon chestnut, murbai ,poplar, cemara, bunga-bungaan dan lain-lain. Di Pulau ini juga banyak terlihat tupai, kelinci, burung unta ,  bebek, dan burung merak yang hidup bebas.

Sebenarnya Nami Island hanyalah pulau kecil yang luasnya 430.000 meter persegi, dan diameternya sekitar 4 Km. Menurut sejarahnya “Nami’ adalah nama seorang jendral berusia 28 tahun yang sangat setia kepada Kaisar Sejo,Kaisar ke tujuh dalam dinasti Joseon.Tapi karena fitnah keji, sang Jendral dibunuh oleh orang suruhan Kaisar. Setelah dibunuh, sang Kaisar baru mengetahui bahwa Jendral Nami bukanlah pengkhianat dan koruptor sebagaimana informasi yang diperolehnya. Atas penyesalan dan permintaan maafnya, Sang Kaisar menghadiahkan pulau kecil ini kepada keluarga Jendral Nami.

Aku berjalan sambil memperhatikan deretan restoran dan coffe shop di pinggir jalan. Sekelompok wisatawan duduk-duduk menikmati minuman panas dibangku-bangku kayu yang nyaman. Mereka terdiri dari anak-anak muda dari berbagai ras. Ada yang berambut pirang  dan bermata biru, tapi ada juga yang berwajah melayu dan oriental.

Hawa dingin membuat kami kelaparan. Apalagi saat itu memang sudah waktunya makan siang.  Kami menuju sebuah restoran yang kabarnya cukup terkenal dengan menu andalannya di Pulau Nami ini. Namanya resto Seomhyanggi.  Di resto ini kami menikmati menu istimewa : iga ayam bakar yang lezat. Ceritanya ada disini

Setelah  menikmati makan siang  kami melanjutkan jalan-jalan menikmati suasana indah di Nami Island sambil berfoto-foto. Saat itu  mataku tertumbuk pada gambar kubah berwarna hijau bertuliskan “Musolla” yang tertempel di pintu Nami Library. Kami berdua berseru senang. Bagi muslim seperti kami, melihat ada tempat untuk shalat di negeri orang ibarat menemukan oase di padang pasir. Kami pun memasuki bangunan itu lalu melaksanakan shalat.

Lega rasanya  telah melaksanakan shalat.  Shalat terasa istimewa karena dilakukan di belahan bumi yang berbeda dari tempat kami biasanya.  Belahan bumi dimana muslim adalah kaum minoritas.  Ada semacam sensasi rasa yang sulit kuungkapkan, seolah ada energi baru yang menggetarkan jiwa.  Suasana hening, syahdu dan dingin, rasanya makin mendekatkan kami pada Sang Pencipta.  

Nami Library di mana musholla berada  adalah perpustakaan anak-anak yang ditata sangat cantik dengan rak buku menjulang sampai ke langit-langit. Buku-buku berwarna-warni dipajang di rak itu. Di dekat rak buku terdapat terowongan dan jembatan kecil untuk anak-anak bermain. Selain itu, ada panggung untuk menggelar pertunjukan boneka. Panggung itu terletak di ruangan yang bergambar gajah-gajah berwarna cerah. Sudah dapat dibayangkan, anak-anak pasti akan senang sekali berada disini!

Sesi pemotretan berlanjut. Rasanya ingin merekam setiap detik, setiap sudut dan suasana pulau indah ini.  Aku dan Akang bergerak kian kemari, berseru-seru senang ketika menangkap  pemandangan yang patut diabadikan. 

Di pulau ini terdapat deretan pohon cemara yang telah menjadi sangat populer sejak dijadikan setting film drama Korea “ Winter Sonata”. Sepertinya sudah menjadi keharusan untuk berfoto di lokasi itu bila berkunjung ke Nami Island.

 “Foto di sini, Kang! Eh di sana juga. Terus ke sebelah sana ya... waaah... cantik semuanyaa!” Seruku kegirangan.

“Sst, jangan norak, Neng. “ Bisik Akang. Tangannya sibuk mensetting kamera.

“Biarlah, Kang. Sekarang saatnya norak-norak bergembira!” Teriakku.

Di satu titik dimana terdapat patung seorang Ibu yang menyusui anaknya, aku bergaya lagi. Entah berapa kali jepretan camera si Akang melukis gambarku. Syukurlah si Akang senang-senang saja meladeni istrinya yang kena penyakit narsis tingkat kronis.

Seorang nenek  berwajah oriental dengan sweater hijau melemparkan senyumnya melihat kelakuanku. Dia berdiri mengawasi aku seperti menunggu.

“Kang, nenek itu kenapa ya memperhatikan Neng terus? Memangnya ada yang aneh?” Tanyaku.
“Bukannya aneh, Neng.  Sudah selesai belum sesi fotonya. Si Nenek ini pengen gantian berfoto disitu! Masak nggak ngerti sih?”

“Oalaah...hehehe...kenapa dia nggak bilang, ya?” Sahutku cengengesan. Cepat-cepat aku menepi dari dekat patung besar itu.

“Memangnya Neng bakal mengerti kalau dia bilang? Memangnya Neng bisa bahasa dia? Sepertinya dia  orang Jepang.” Akang mengangsurkan tangannya memberi isyarat pada nenek itu.

 Eh,ternyata benar . Dia langsung mengambil posisi di tempat aku berdiri tadi. Seorang anak muda   menjepret camera poketnya mengambil gambar si Nenek.

Hehehe, maaf ya, Nek...

Hari beranjak sore. Aku dan Akang melepas lelah duduk dibawah pohon. Ransel berisi camera dan lensa-lensa yang beratnya 11 kg itu kami letakkan di tanah yang berlapis guguran daun-daun kuning.

Duduk  berdua di bawah pohon berdaun warna-warni, di tengah udara dingin, dan keheningan alam, lalu diam tanpa kata. Tak perlulah berkata, karena alam telah mengungkapkan berjuta rasa.


Angin bertiup mengantarkan hawa dingin menusuk, lalu sebuah daun merah lepas dari tangkainya, melenggok gemulai, turun ke bumi  dengan gerak perlahan.

Aku memejamkan mata, menghirup udara dalam-dalam. Jemariku dalam genggaman Akang. Hangat.
Bagaimanalah aku mengungkapkan rasanya, ya. Pantas saja pulau Nami dijadikan setting drama Korea yang bertema cinta dan romantis habis itu.

Maka,kukatakan padamu, Kawan! Bagi yang berencana mengunjungi Korea Selatan dan Nami Island di musim gugur, datanglah bersama suami atau istri ! Lalu  bersiaplah jatuh cinta lagi, pada orang yang sama....

6 komentar:

Riski Fitriasari mengatakan...

itu.. itu foto yg paling bawah bikin ngiri tingkat gunung Slamet deh.. bagus banget :)

Ochan Dwinursetiadi mengatakan...

wah mantap bu. semoga aja ntar aku bisa ke Jepang. ^_^

jangan lupa maen ya hhttp://www.ochannomonogatari.com

Dewi Sutedja mengatakan...

@Riski Fitriasari hihihihi...Gunung Slamet kabarnya cantik ya. Pengen kesana, someday.

Dewi Sutedja mengatakan...

@Ochan Dwinursetiadi. Aamiin

Nunu el Fasa mengatakan...

Mbak jul ngiriiiiiiiiii.... Doakan aku busa ke sana ya mbak. Soon

Dewi Sutedja mengatakan...

@Mbak Nunu : Aamiin.... semoga dirimu juga bisa ke Korea, soon...