Jumat, 27 Juni 2014

Menjelajah Museum Presiden Korea Selatan

Museum Presiden Korea Selatan 

Begitu mendengar agenda hari ini adalah berkunjung ke museum, kepalaku “nyut-nyutan”. Menurut suamiku, si Akang, berwisata ke Korea Selatan  kurang lengkap bila tidak sekaligus mempelajari sejarah dan peradabannya.

“Kenapa tidak ke tempat lain saja sih? Apa enaknya berkunjung ke museum?” protesku.

Di kepalaku, museum  itu tak lebih sebuah gudang  yang suram, bergaya jadul, tempat menyimpan barang-barang kuno yang berhubungan dengan sejarah. Aku benci pelajaran sejarah. Seingatku dulu waktu sekolah nilai sejarahku selalu pas.  Enam saja.  Tak lebih, tak kurang. Bagiku pelajaran sejarah selalu membosankan.  Terlalu banyak nama-nama dan tanggal yang harus dihafal. Seandainya saja buku pelajaran sejarah dibuat seperti penulisan novel, mungkin aku  lebih tertarik.  Kenyataannya buku pelajaran sejarah ditulis dengan kaku, sehingga sukses membuat pusing kepalaku.

 “Yaah... payah Neng ini. Ingat tidak kenapa kita pilih jalan-jalan ke Korea Selatan? Katanya pengen tahu kenapa negara ini  bisa menjadi demikian populer dan  demikian pesat kemajuannya. Memangnya kemajuan Korea saat ini bisa dipisahkan dari sejarah dan peradaban masa lalunya? Menurut Neng bagaimana?” tanya Akang sengit.

Pertanyaan retorisnya tentu tak perlu ku jawab. Aku tahu, Akang suka  sejarah. Sebut saja tokoh-tokoh dalam sejarah Indonesia terutama tokoh dari kerajaan-kerajaan di nusantara, misalnya Ken Arok,  Mpu Gandring, Hayam Wuruk, Patih Gajah Mada, Raden Wijaya, dan masih banyak lagi. Akang hafal nama-nama dan alur sejarahnya. Minat kami berbeda,  tapi alasannya untuk mengunjungi museum tak terbantahkan.  Jadi jelaslah sudah, acara ke museum ini tak dapat kuhindari.

Keheningan senja terasa pecah oleh suara derap kaki-kaki bersepatu boot yang menghentak-hentak trotoar jalan.  Dengan napas ngos-ngosan, aku dan Akang berlari-lari  menuju ke sebuah bangunan bergaya modern. Bangunan yang terletak persis di depan istana Presiden Korea Selatan itu dirancang dengan sistem ramah lingkungan. Unsur kaca banyak mendominasi bangunan  untuk memaksimalkan masuknya cahaya matahari.

Kami celingukan mencari-cari rombongan tour yang sudah lebih dulu sampai, tapi tak kelihatan juga.  Inilah akibat terlalu narsis. Aku dan Akang sibuk berfoto-ria sampai tidak sadar terpisah dari rombongan. Untunglah akhirnya wajah Mr. Danny, tour leader kami, menyembul dari sebuah pintu lebar. Wajah cemasnya segera berganti kelegaan ketika melihat kami.

 “Maaf, Mr. Danny.  Kami tadi tertinggal rombongan. Untung saja ada yang membantu menunjukkan jalan  ke sini.” Ujarku sambil mengatur napas yang memburu.

“Ya, syukurlah. Ayo kita masuk. Inilah museum Presiden Korea Selatan, Cheong Wa Dae Sarangchae. Di sini kita bisa melihat sejarah Korea Selatan, kondisi negara saat ini dan juga harapan di masa datang.”

Kami  memasuki  salah satu ruang museum. Lantai dasar museum dibagi menjadi 2 ruangan. The Republic of Korea Hall. Begitulah  judul ruangan ini. Pengunjung yang hadir di dalam ruang itu tidak terlalu banyak, dan terdiri dari kelompok-kelompok kecil dengan masing-masing pemandunya.

 Ternyata museum ini sama sekali tidak seperti gudang. Suasananya nyaman, modern, tidak bergaya jadul. Sejenak aku menikmati suasana  remang-remang dengan pencahayaan terfokus pada layar-layar di dinding yang menampilkan gambar-gambar tokoh Korea.

 Di bagian ini terdapat  tokoh-tokoh yang paling terkenal  dan berperan dalam sejarah Korea. Salah satunya adalah  raja ke empat kerajaan Joseon,  Sejong yang Agung, yang hidup  tahun 1397-1450.  Sejong adalah putera ke-3  Raja Taejong. Sejak kecil Sejong unggul dalam banyak hal melebihi kedua kakaknya. Pada tahun 1418 Sejong naik takhta menggantikan ayahnya. Di masa pemerintahannya, Sejong mendorong rakyatnya berprilaku sesuai ajaran Konfusianisme, sehingga ajaran itu berkembang menjadi norma sosial. Di masa pemerintahannya Sejong juga melaksanakan kebijakan-kebijakan luar negri yang menguntungkan negaranya, mendorong berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk juga teknologi militer, sastra dan sistem abjad fonetik asli untuk bahasa Korea. Dalam 32 tahun masa pemerintahannya, Sejong telah menyumbangkan banyak hal yang menjadi asal mula berkembangnya Korea Selatan.
Di depan gambar King Sejong The Great

Sambil menjepretkan kameranya mengabadikan gayaku di dekat gambar King Sejong the Great, Akang mulai menceramahiku.  

“ Neng, belajar sejarah itu penting. Mempelajari sejarah itu sama dengan mempelajari pengalaman masyarakat di masa lalu. Keberhasilan di masa lalu bisa memberi pengetahuan bagi kita untuk mencapai keberhasilan yang lebih baik lagi. Sebaliknya, kegagalan di masa lampau dapat menjadi pelajaran berharga yang harus diwaspadai. Jadi dengan mempelajari sejarah kita dapat berbuat bijaksana  dalam menghadapi masa depan.”

“ Iya... tapi Akang sajalah yang belajar sejarah ya.  Jadi kalo Neng butuh informasi tentang sejarah,  tinggal tanya sama Akang . Setuju?” Ujarku sambil berlalu.

Dari sudut mata kulihat Akang menggeleng-gelengkan kepala. Hehehe... mana bisa membuatku suka sejarah meskipun dengan cara membawaku ke museum se-keren ini.

Di ruangan kedua yaitu “ Hi Seoul Hall” terpajang segala sesuatu yang menarik dari Seoul sebagai ibu kota negara. Mulai dari  tempat-tempat bersejarah  dan juga tempat-tempat  menarik di Seoul yang layak dikunjungi oleh wisatawan misalnya Gwanghwamun Square, Insadong Street, N Seoul Tower, Namdaemun Market, dan lain-lain. Ada layar sentuh yang dapat digunakan pengunjung untuk memperoleh informasi secara rinci mengenai istana-istana yang terdapat di Seoul, kuil, galeri seni, gedung pertunjukan hingga restauran.

Dari tempat-tempat itu, sepertinya Namdaemun sangat menarik. Terutama bagi aku dan teman-teman serombongan.  Kabarnya di sana banyak di jual berbagai barang , dari yang biasa sampai bermerk, hingga souvenir  yang lebih murah dibandingkan di tempat lain. Mr. Danny tersenyum-senyum waktu  ibu-ibu mendesaknya  membawa rombongan ke sana.

“Sabar. Besok ada acara shopping ke Namdaemun.” Janjinya.

“Mestinya hari ini saja, kita tidak usah ke museum.” Ujar mbak Rani. Bibirnya manyun, matanya   menyapu  dinding ruangan yang penuh foto-foto berbagai lokasi wisata di Korea Selatan tanpa minat.  Dia  terlihat bosan.
Indahnya pemandangan di Korea Selatan

Aku nyengir sambil melirik Akang.” Tuh kan! Ternyata bukan cuma Neng yang tidak suka ke museum.”
 Wajah Akang kontan cemberut. “Payah, perempuan di mana-mana sama saja. Pengennya shopping. Padahal museum ini gunanya untuk menambah isi otak. Sedangkan shopping itu hanya menghabiskan isi dompet.” Bisiknya di telingaku.

Tawaku pecah. “ Ya nggak apa-apa, sekarang isilah otak Akang sebanyak-banyaknya. Besok giliran Neng menghabiskan isi dompet. Sebanyak-banyaknya juga ya...hahaha.”

Di lantai 2 terdapat Presidential Center. Di sinilah ruang utama museum ini.  Aku melihat foto-foto yang menampilkan  adegan-adegan sejarah Korea dipajang di dinding. Foto-foto hitam putih yang menampilkan peristiwa besar dan saat-saat bersejarah bagi Korea Selatan itu seolah berbicara.    Diam-diam aku merasakan apresiasi  mendalam ketika  melihat  bangsa Korea  tumbuh secara dramatis.

Di Presidential Center ini, terpampang foto semua presiden Korea.  Dari presiden pertama, Rhee Syng-man, hingga presiden ke -18 yang sekarang, lengkap dengan transkrip pidato pelantikan serta berbagai kebijakan yang diambil para presiden untuk menggambarkan gaya kepemimpinan mereka.    Presiden  ke-18 yaitu Park Geun-hye adalah seorang wanita.
Foto virtual dengan Presiden Korea Selatan

Uniknya, pengunjung bisa berfoto secara virtual dengan sang Presiden.  Di sebuah ruang, terdapat layar berwarna hijau terang. Aku berdiri di depan layar hijau tersebut. Posisi kaki kuletakkan   pas di atas gambar telapak kaki yang tercetak di lantai.  Lalu di layar TV terlihatlah diriku sedang berdiri berdampingan dengan Presiden Geun-hye di depan istananya. Waah.... keren juga, serasa berdekatan dengan orang nomor satu di Korea Selatan.

Ketika berjalan menyusuri ruang pameran, mataku menyapu sebuah sudut ruangan. Di sana ada sebuah meja yang menyerupai meja kerja presiden Korea, lengkap dengan bendera Korea sebagai latar belakangnya. Wuiih... buru-buru aku duduk di kursi itu,   berpose  ala presiden. Duduk tegak  dengan dagu terangkat  anggun seperti  layaknya first lady.

“Dasar, first lady katrok! “ seru Akang setelah menjepret gayaku. Garis bibirnya membentuk senyum mengejek.

Aku meleletkan lidah, membalas ejekannya. “ Kasihan ya, yang punya istri katrok. Biar katrok yang penting eksis!”. Aku tak perduli ejekan Akang, yang penting adalah dia selalu  mau menjepretkan kameranya mengabadikan gayaku. Tampaknya aku telah terjangkiti penyakit narsis tingkat kronis.

Di lantai dua ini juga terdapat ruangan yang menampilkan posisi Korea  Selatan di dunia internasional. Sebuah tiruan ruangan  KTT G-20 sengaja dibuat untuk menjelaskan bahwa Korea Selatan adalah salah satu negara anggotanya.

Fasilitas lainnya yang tak kalah menarik dari museum ini terdapat di lobby lantai 2.  Ada ruang pamer khusus yang menampilkan hasil karya anak-anak. Terdapat area yang cukup luas dengan kursi dan meja untuk pengunjung duduk bersantai. Lalu di dinding terdapat beberapa komputer dengan akses internet gratis yang bisa digunakan oleh pengunjung museum.

Aku dan akang sempat duduk-duduk sebentar, sambil menikmati suasana nyaman diruangan itu. Melalui  jendela kaca kami melihat   gunung Bugaksan di luar sana tengah memamerkan kecantikannya. Wah, ternyata duduk sambil memandang kecantikan gunung Bugaksan melalui jendela museum bisa juga membangkitkan romantisme.

Setelah melihat semua ruang museum, aku dan akang menyempatkan melihat souvenir yang dijual di sebuah toko di lobby museum. Di sini dijual berbagai barang tradisional Korea yang dibuat dengan sentuhan modern. Ada juga  kartu pos dan buku-buku berisi informasi seputar Seoul dan Korea Selatan.
Di depan toko souvenir museum Presiden Korea Selatan

Museum ini juga dilengkapi juga dengan sebuah restoran kecil. Pengunjung bisa menikmati minuman hangat  dan makanan untuk mengusir dinginnya suhu udara.

Secara keseluruhan, museum ini cukup menarik. Tampilannya modern dan nyaman. Semua point penting tentang Korea Selatan telah tersaji dengan lengkap, menarik, didukung dengan teknologi dan sistem pencahayaan yang tepat.
 Aku ingat kata-kata Bung  Karno, menurutnya bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Sayang sekali aku belum bisa seperti Akang, menyukai dan senang mempelajari sejarah, meskipun aku tahu bahwa sejarah itu penting dan tak dapat dipisahkan dari pencapaian yang diperoleh saat ini.  Seperti Korea Selatan, yang tak terlepas dari perjalanan sejarahnya kini telah menjelma menjadi negara yang patut diperhitungkan.


4 komentar:

Eka Fikriyah mengatakan...

Wow, keren museumnya, bikin mupeng..Makasih mbak sharingnya...

Dewi Sutedja mengatakan...

Terimakasuh sudah berkunjung ke sini...

Ila Rizky mengatakan...

cakep ya, mak. jadi pengen main. semoga kapan2 bisa ke sana. :3

Dewi Sutedja mengatakan...

Aamiin...pasti bisa kesana mak...