Kamis, 19 Juni 2014

Keamanan ala Polisi Gang Nam Style

sumber foto : www. kaskus.co.id

Keamanan di suatu negara merupakan faktor penting yang harus dipertimbangkan saat akan berwisata. Umumnya orang tidak akan menjatuhkan pilihan berwisata ke suatu tempat bila keamanan di tempat tersebut tidak terjamin. Karena  itulah, sebelum memutuskan mengunjungi Korea Selatan di bulan November 2013 lalu, aku dan suami sempat mencari-cari informasi tentang  kondisi keamanan di negara itu.  Berita-berita yang beredar mengenai hubungan Korea Selatan dan Korea Utara, sempat menimbulkan kekhawatiran. Kedua negara itu memang telah sepakat mengakhiri perang Korea tahun 1950-1953. Namun, hingga saat ini, secara teknis kedua negara itu berada dalam kondisi perang. Sejak itu hingga 2013, Korea Utara seringkali melontarkan ancaman dengan pernyataan-pernyataan  provokatif misalnya pernyataan bahwa Korea Utara sedang  memasuki “masa perang” dengan Korea Selatan, serta ancaman untuk menutup zona industri dengan Korea Selatan. Namun  sejauh ini pemerintah Korea Selatan tidak menggubris ancaman tersebut karena yakin   Korea Utara beresiko kalah bila nekat berperang. Selain pemberitaan mengenai panasnya hubungan Korea Selatan dan Korea Utara, banyak juga beredar berita yang menyebutkan bahwa Korea Selatan aman dikunjungi turis asing.  

Kenapa memilih Korea Selatan? Demam Korea  yang melanda dunia adalah alasan yang  mendorong kami  berkunjung ke negara ini. Kami begitu penasaran, ingin mengetahui lebih jauh tentang  keistimewaan  Korea Selatan hingga bisa demikian populernya.  Dengan budaya K-Pop, serial drama, film, fashion, kuliner, keindahan alam, inovasi bidang teknologi dan industri, serta segala elemen yang dimilikinya, Korea Selatan sukses menyalip negara-negara Asia dalam mencapai kemajuan di bidang perekonomian. Kemampuan negara ini untuk mensinergikan semua potensi yang dimilikinya sungguh mengagumkan. Tanpa disangka, bahkan  dalam hal mempromosikan keamanan dan kenyamanan di negaranya, pemerintah Korea Selatan bisa demikian kreatif. Lalu bagaimanakah kiat pemerintah Korea Selatan dalam menjaga keamanan dan kenyamanan para turis yang membuat kami terkagum-kagum itu?

Hari telah beranjak senja, matahari di langit Seoul  menebarkan cahaya kemerahan yang memanjakan mata berkat keindahannya. Angin dingin musim gugur   berhembus membelai daun merah, coklat dan kuning yang menghias batang-batang pohon di sepanjang jalan. Dingin  yang 1 derajat celcius  menerjang  wajah dan merayap  ke sela-sela mantel tebalku, untunglah jurus 3 lapis pakaian ini cukup manjur melawan gigitan dingin.  Guguran daun warna-warni sebagian telah menghias trotoar bagaikan permadani cantik yang terbentang menyambut jejak langkah kami. Aku dan suamiku, Akang, begitulah panggilan kesayangannya, mengayun langkah menyusuri trotoar menuju sebuah museum di Seoul.  Aku menoleh memperhatikan iring-iringan rombongan tour dibelakang kami. Jarak mereka masih cukup jauh sebelum menjajari langkah kami. 

Akang  memasang tripod, mensetting kameranya, memilih angle yang tepat, lalu mulai menjepret lukisan alam Seoul berhiaskan langit kemerahan. Tas ransel berisi lensa-lensa yang tidak digunakan diletakkannya di bawah pohon di pinggir jalan. Kami berdua kemudian terlena, bergerak kesana kemari membidik segala sesuatu yang menarik.  Kadangkala kamera mengarah ke jalan raya yang tidak terlalu ramai, menyorot  anak-anak muda bergaya modis yang lalu lalang, kemudian beralih ke deretan bangunan di pinggir jalan.  Kamera Akang   dengan lincahnya terarah kian kemari mencari objek foto yang unik. Seringkali jepretan kameranya diwarnai kehadiran seorang wanita berjilbab dan bermantel putih tebal, tersenyum narsis dengan berbagai gaya, dari gaya anggun sampai norak. Wanita itu aku, tentu saja. Hehe..


Beberapa saat berlalu, tanpa kami sadari cahaya kemerahan di langit telah hampir padam, menyisakan sedikit saja semburat merah  seperti nyala lilin di tengah gelap.

Aku berseru kaget. “ Kang, kita ketinggalan rombongan! Aduh..kemana ya mereka?”.

Kami celingukan mencari-cari rombongan yang tadi berjalan beriringan, tapi tak tampak rupa mereka.  Akang buru-buru melipat tripod dan menyerahkannya padaku. Agak panik  dia menghampiri pohon chesnut tempat kami meletakkan ransel hitam berisi lensa-lensanya . Hatiku cemas. Aduh! Bagaimana kalau ransel itu hilang diambil orang? Tapi kecemasan itu sirna,  ransel itu masih berada di tempat semula, terduduk manis di bawah batang pohon chestnut. Aaahh.....Seoul ternyata aman . Terbayang  kalau kami meninggalkan ransel berisi lensa itu di pinggir jalan di Jakarta, pasti sebentar saja sudah lenyap disambar orang.  Akang segera memasukkan kamera  ke ransel hitam itu  lalu menyandangnya di punggung.

Setengah berlari kami kembali menyusuri trotoar. Lampu-lampu jalan telah menyala mengusir gelap yang  mulai menggantung di langit Seoul.

 “ Coba ingat-ingat lagi, tadi tujuan kita mau ke museum apa ya? “ Tanya Akang.
“Waduh... apa ya.” Sahutku bingung. “ Namanya pakai bahasa Korea,  Cheong-cheong apa gitu. Kalau tidak salah kata Mr. Danny letaknya di seberang Blue House. Lha...Blue House-nya di mana ya?”

Kami berdua  terus bergerak  sambil mengawasi kiri kanan jalan berharap melihat rombongan tour ataupun Mr. Danny, tour leader kami. Inilah akibatnya kalau kelewat narsis, terlalu asyik berfoto-foto hingga terpisah dari rombongan. Beberapa saat kemudian langkah kami terhenti, aku sibuk mengatur napas  sambil celingukan.

Seorang pemuda berkulit putih berpostur tinggi-langsing atletis dengan setelan jas rapi, dan topi baret hitam berjalan mendekat. Dia memakai kacamata hitam bertengger indah disangga tulang hidungnya yang bangir. Tak dilepasnya kacamata hitam itu meski langit sudah agak gelap.  Mau tidak mau penampilannya yang keren itu membuatku bertanya-tanya, apakah dia salah satu bintang film drama Korea ya? Siapa tahu aku begitu beruntung bisa bertemu  bintang film  Korea di sini. Tapi kok dia sendirian, harusnya bintang film itukan ditemani bodyguardnya?

“Can I help you, Ma’am?” Tanyanya saat dia berdiri tepat di depan hidungku.  Aiih... Si Keren ini bicara padaku. Pakai bahasa Inggris, bukan  Korea!  Aku bengong, memandang suamiku yang sama bengongnya.
“Oh..eh...Can you show us the way to the Blue House?  Kami terpisah dari rombongan. Tour leader kami tadi mengajak kami ke sebuah museum, tapi aku lupa nama museum itu. Yang aku tahu, letaknya di depan Blue House." Ucapku dalam bahasa Inggris. 

“Oh, itu pasti museum Presiden Korea, Cheongwadae Sarangchae. Mari saya tunjukkan. Ikuti saya ya.” Si Keren itu berjalan mendahului kami.  Beberapa saat kemudian dia mengangsurkan tangan kirinya, mempersilahkan kami masuk ke sebuah areal gedung megah berwarna putih. “ Inilah museum Presiden Korea. Dan ...” Tangan kanan si Keren dengan gaya menunjuk ke sebuah bangunan beratap biru di seberang jalan “Yang itu adalah Blue House.”

Aku dan Akang terseyum lega, dan mengucapkan terimakasih lalu melesat berlari ke arah gedung museum. Ketika aku menoleh, si Keren masih berdiri di tempatnya, tersenyum dan melambaikan tangan . Aku baru tersadar, aduuh... kenapa tadi tidak minta foto bareng si Keren itu ya? Lumayan kan  buat kenang-kenangan.
Di pintu masuk gedung Mr. Danny berdiri memandang kami dengan wajah lega. Tampaknya dia  agak cemas karena mengira kami tersesat. Setelah meminta maaf, aku menjelaskan bahwa kami dibantu  seorang pemuda keren yang menunjukkan jalan.

“Oh ya. Dia itu polisi wisatawan. Polisi Gangnam Style, begitulah sebutannya.”
Keterangan Mr. Danny itu kontan membuat aku takjub. “Gangnam Style itu kan lagu   yang dipopulerkan rapper Psy via YouTube dan sempat menjadi hits di segala penjuru dunia. Lalu Polisi  Gangnam Style itu maksudnya apa?” Tanyaku.

“ Itu salah satu cara unik Korea Selatan dalam mempromosikan keamanan bagi turis asing yang berkunjung  ke sini. Jadi, rapper Psy diberi kehormatan oleh pemerintah untuk merancang busana bagi polisi wisatawan. Hasilnya seperti yang terlihat tadi, polisi wisatawan berseragam jas biru dengan kemeja abu-abu, celana berwarna gelap, baret hitam dan kacamata hitam. Karena itulah satuan polisi itu dijuluki polisi Gangnam Style. Tugas mereka adalah membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi  wisatawan asing bila menemui kesulitan di tempat-tempat wisata. Misalnya, bila ada turis yang merasa ditipu sopir taksi atau penjual makanan  di pinggir jalan. Atau seperti kalian tadi, bingung ketika akan menuju  suatu tempat. Mereka telah dipersiapkan mampu berbahasa Inggris, Mandarin dan Jepang sehingga mudah berinteraksi dengan wisatawan.” Jelas Mr. Danny.

“ Lalu apa bedanya dengan polisi yang lain?” Tanya Akang.

“Polisi Gangnam Style ini hanya menyelesaikan masalah para wisatawan saja. Mereka tidak diperlengkapi dengan senjata. Kalau masalahnya sudah melebar ke kasus kriminalitas seperti pencurian, perampokan dan sebagainya maka itu menjadi wewenang polisi biasa.” Mr. Danny mengakhiri penjelasannya dengan mempersilakan kami masuk ke ruang museum.

Hari itu, aku mencatat satu hal lagi tentang keistimewaan Korea Selatan dibanding negara lain, terutama Indonesia. Sebenarnya kebudayaan Korea Selatan tidaklah terlalu istimewa dibanding budaya Indonesia yang menurutku lebih beragam dan unik. Hanya saja, Korea Selatan  sangat pandai memberi kemasan menarik pada setiap potensi yang mereka miliki. Pemerintahnya demikian jeli mempromosikan keamanan dan kenyamanan Seoul dengan cara memanfaatkan Gangnam Style yang  hits beberapa waktu lalu sebagai  kemasan yang menarik. Kapan ya Indonesia bisa cerdas mempromosikan potensi wisatanya seperti Korea Selatan? 


4 komentar:

Tatit mengatakan...

Korea...oh Korea. Jadi kangen drama Korea

Dewi Sutedja mengatakan...

Mbak@Tatit gterimakasih sudah berkunjung... hayuk nonton drama Korea. hehe

Nunu mengatakan...

Ngebayangin di sini sudah jadi incaran digoadain cewek2 tuh polisi hehehhe

Dewi Sutedja mengatakan...

Mbak Nunu, kalau di Indonesia, si polisi bisa jadi bintang sinetron kayaknya...heheheh