Senin, 30 Juni 2014

Jando Beraes


Ramadhan lekat dengan kenangan masa lalu. Masa ketika aku remaja, dan 4 orang adik-adikku masih di SD dan SMP. Ingatanku akan kegiatan rutin mudik dari Palembang ke Lampung  saat Ramadhan, membawaku pada kenangan tentang  si Jando Beraes.

Siapakah Jando Beraes itu? Tak lain itulah julukan yang kami berikan pada sebuah mobil sedan tua bobrok keluaran tahun 1970 .  Jando beraes dalam bahasa Palembang artinya janda berdandan. Mobil tua ini diibaratkan  seorang janda tua yang berusaha keras berdandan, namun seberapa keras usaha untuk melawan usia tetap saja harus menerima kenyataan bahwa dirinya telah digerogoti penyakit tua. Sering mogok mesinnya, pintu kadang-kadang sulit dibuka, engkol untuk membuka kaca jendela macet,dan lain-lain.

 Alm. Papi hanya tersenyum kalau kutanya kenapa tidak beli mobil yang lebih bagus. Pertanyaan retoris yang tak perlu dijawab. Tentu saja, karena aku sendiri sudah mengerti bahwa inilah mobil yang mampu dibeli Papiku, seorang pegawai negri jujur yang memegang teguh prinsip idealismenya,  dengan beban satu orang istri  dan 5 orang anak perempuan yang semuanya sekolah.


Hubungan  kami dengan si Jando Beraes ini pasang surut, sering kuibaratkan “ benci tapi terpaksa rindu”.  Yah... terpaksa rindu, karena inilah satu-satunya kendaraan yang kami miliki saat itu.

Waktu itu selepas shalat subuh kami sekeluarga berangkat menuju Lampung. Jalanan masih sepi. Papi yang duduk dibelakang kemudi serius menekuri jalan lintas Sumatera. Mami duduk di depan, sementara aku dan keempat adikku berdesakan  di bangku belakang. Hebat sekali, 5 orang anak perempuan bisa muat di bangku belakang sedan tua itu. Tak anehlah, karena kami dulu bertubuh kecil kurus.

Hari beranjak siang, aku dan adik-adikku terangguk-angguk dibangku belakang. Mata kami terpejam dibuai kantuk. Sesekali tubuh kami condong ke kiri atau ke kanan seirama tikungan yang dilewati.

Tiba-tiba aku terbangun. Jando beraes tak bergerak.

“ Waduh, mogok.” Ujar Papi sambil beranjak turun dari mobil lalu membuka kap mesin.

Aku ikut turun. Kami di tengah jalan. Di belakang kami pasar yang padat pengunjung. Jando Beraes yang ngambek di tengah jalan jelas mengganggu lau lintas.

Cepat-cepat aku bangunkan adik-adikku. Satu persatu mereka turun dengan wajah mengantuk. Kami pun bersiap mendorong mobil ke pinggir.

Beberapa pria yang berdiri di pinggir jalan terusik hatinya melihat 5 orang anak perempuan mendorong mobil bobrok.

“ Sudah, Dik. Duduk saja di sana. Biar kami yang dorong. “ Ujar salah seorang lelaki.

“ Terimakasih, Pak!” Ucapku, antara berterimakasih dan malu.

Kami berlima duduk berjejer dipinggir jalan.  Mami duduk agak jauh dari kami, sementara Papi mengambil air untuk mengisi radioator.

Apa yang terjadi pada Jando Beraes?

“ Mesinnya terlalu panas. Sepertinya radiator bocor. Kita harus menunggu sampai mesinnya dingin.” Kata Papi.

Olalaa... Jadi tak ada yang dapat kami lakukan selain menunggu hati si Jando Beraes kembali dingin. Ternyata dia gampang emosi . Terbukti dalam perjalanan mudik itu total 4 kali si Jando ngambek. Sehingga kami harus rela 4 kali duduk menunggui mesinnya dingin. Oh...kejaam!

Jando Beraes kadangkala tak memandang tempat dan waktu untuk ngambek. Dia berlaku semaunya saja. Pernah waktu itu dia mogok persis di pusat kota Palembang. Di depan mesjid Agung yang ramainya bukan kepalang.  Sambil mendorong mobil aku berdoa semoga saja tak ada teman-temanku yang melihat aksiku. Oh, Jando Beraes, aku sebel padamu!

Tapi aku juga punya kenangan manis bersama Jando Beraes. Besok aku ceritakan ya...


4 komentar:

rita asmaraningsih mengatakan...

Kisah itu tentunya tak terlupakan ya Mbak.. "Jando Beraes" seperti nama motif songket Palembang yang terkenal, betul kan Mbak? Btw, salam kenal ya...

Nunu mengatakan...

Hihi namanya unik mbak jul

Dewi Sutedja mengatakan...

iya betul...hehehe... salam kenal juga. terimakasih sudah mamir ke sini ya

Dewi Sutedja mengatakan...

emang unik seunik tingkahnya...hihihi..